Bagi sebagian besar dari kita, masalah air sering kali hanya sebatas tagihan bulanan atau keran yang bocor. Namun, jika Anda melangkah meninjau atau menyaksikan secara tidak langsung melalui berita di kanal digital atau media ke dalam ruang sidang UN Water Conference dan pertemuan iklim global, Anda akan menyadari bahwa narasi tentang air telah berubah drastis. Air tidak lagi dipandang sekadar sebagai komoditas rumah tangga, melainkan sebagai pusat gravitasi geopolitik, kelangsungan hidup umat manusia, dan ancaman keamanan global.
SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Sebanyak 101 mahasiswa Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh (KPJ) Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 2 di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada Senin (29/6/26) hingga Jumat (3/7/26). Melalui kegiatan ini, mahasiswa melakukan akuisisi data geospasial sebagai dasar penyusunan basis data untuk mendukung pengembangan potensi agrowisata di Kabupaten Magetan.
Hal ini berangkat dari keberadaan Kabupaten Magetan yang merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mengandalkan sektor pertanian dan pariwisata untuk mendukung pembangunan daerah. Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya, wilayah tersebut berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan agrowisata sehingga memerlukan pengelolaan berkelanjutan, salah satunya berbasis data geospasial.
Sebanyak 112 mahasiswa Program Studi Geografi Lingkungan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) didampingi 10 dosen melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 2 di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada Senin (29/6/26) hingga Jumat (3/7/26). Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran lapangan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menerapkan konsep dan metode geografi lingkungan secara langsung di lapangan.
KKL merupakan kegiatan pembelajaran yang rutin diselenggarakan pada semester genap. Melalui kegiatan ini, mahasiswa menerapkan konsep dan metode geografi lingkungan melalui observasi, survei, wawancara, pengumpulan data primer, serta analisis kondisi fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan secara langsung di lokasi penelitian.
Di tengah ancaman bencana perubahan iklim, data iklim dinilai dapat menjadi fondasi utama yang digunakan dalam pemetaan risiko dan penyusunan proyeksi iklim untuk mewujudkan tata ruang yang adaptif sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Pakar Klimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., menyampaikan hal tersebut dalam siaran langsung RRI Pro 3 “Early Warning System : Strategi Tata Kelola Ruang di Era Krisis Iklim” , Senin (13/7/26).
Dr. Emilya menjelaskan bahwa dalam perencanaan tata kelola ruang, terdapat peran data iklim, pemetaan risiko, dan proyeksi iklim yang tidak kalah penting. Ketiganya merupakan komponen yang menjadi pondasi utama untuk mewujudkan tata ruang yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Plastik telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia. Namun, cara masyarakat menggunakan plastik dalam waktu yang sangat singkat justru menjadikannya sebagai salah satu sumber pencemaran lingkungan terbesar saat ini. Karena itu, pengurangan sampah plastik tidak cukup hanya dengan mengganti bahan kemasan, tetapi juga harus diiringi perubahan budaya konsumsi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Djaka Marwasta, M.Si., saat menjadi narasumber dalam Dialog Tanggap Bencana RRI Yogyakarta memperingati Hari Bebas Sampah Plastik Sedunia, Senin (7/7/26).
Laboratorium Penginderaan Jauh, Departemen Sains Informasi Geografi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Kuliah Umum dengan menghadirkan peneliti dari industri penyedia data satelit, Stellarvision, Korea Selatan, Junse Oh, M.S., pada Jumat (10/7/26) di Gedung KLMB E107, Fakultas Geografi UGM.
Dalam kuliah umum bertajuk “Understanding Disasters Through SAR Satellite Imagery”, Junse Oh yang merupakan spesialis SAR Remote Sensing, Deep Learning, and Satellite-Based Landslide Detection memaparkan pemanfaatan Synthetic Aperture Radar (SAR) Satellite Imagery untuk memahami dan memantau berbagai bencana alam.
United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat 99 persen populasi dunia menghirup udara tercemar setiap hari. Di kawasan perkotaan, konsentrasi polutan di dalam ruangan bahkan dapat mencapai dua hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan udara luar, padahal masyarakat urban menghabiskan lebih dari 90 persen waktunya di dalam ruangan.
Di tengah keterbatasan solusi yang ada, mikroalga menjadi alternatif pemurnian udara karena kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO₂) lebih efisien dibandingkan tanaman darat sekaligus menghasilkan oksigen dalam jumlah besar.
Di tengah era global yang memberikan tekanan secara lebih kompleks pada alam, strategi proaktif berbasis science-based evidence sangat diperlukan untuk mengurangi risiko bencana dan membangun ketahanan iklim. Terlebih, topik ini menjadi sangat menarik jika ditinjau dari beragam pendekatan multi disiplin, bahkan transdisiplin. Oleh karena itu, Swasaba Research Initiative (SRI) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan University of Waterloo, Kanada, menggelar Workshop Strategi Proaktif Mengurangi Risiko Bencana dan Membangun Ketahanan Iklim pada Senin (22/6/26).
Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar Pelatihan Pertolongan Pertama (first aid) pada Sabtu (20/6/2026) di Auditorium Merapi Fakultas Geografi UGM.
Pelatihan yang diperuntukkan bagi mahasiswa angkatan 2025 tersebut menjadi bagian dari inisiasi fakultas dalam rangka mencegah risiko sebelum pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Sebelumnya, Fakultas Geografi UGM juga telah melaksanakan pelatihan serupa bagi mahasiswa angkatan 2024 peserta KKL 2.
Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., dalam sambutan pembukanya menyampaikan bahwa pembekalan pertolongan pertama merupakan salah satu bentuk fasilitas yang diberikan fakultas untuk mendukung keselamatan mahasiswa selama berada di lapangan.
Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr.rer.nat. Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc., memaparkan hasil riset kebencanaan dalam forum internasional Taiwan-Japan-Indonesia Disaster Research Exchange Workshop yang diselenggarakan oleh National Taipei University pada Rabu (10/6/26) hingga Kamis (11/6/26).
Forum tersebut merupakan wadah untuk berbagi pengalaman sekaligus mengidentifikasi peluang kerjasama lanjutan dengan berbagai ahli yang memiliki bidang kajian terkait.
“Kegiatan ini membuka peluang kolaborasi di masa mendatang dengan expertis dan area riset yang saling terkait atau beririsan,” ujar Prof. Aris.

