Dua dosen dari Departemen Geografi Lingkungan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) yaitu Dr. Dyah Rahmawati Hizbaron dan Utia Suarma menjadi pengajar pada program The 1st Restoration Education in Asia Summer School yang diselenggarakan pada Senin (20/7/26) hingga Rabu (29/7/26) di College of Forestry and Natural Resources (CFNR), University of the Philippines Los Baños (UPLB), Filipina.
Program ini sepenuhnya didukung oleh Center For International Forestry Research dan International Centre For Research In Agroforestry (CIFOR & ICRAF) atau yang saat ini lebih dikenal sebagai Landscape Alliance.
Program Summer School dilaksanakan untuk mempertemukan mahasiswa tingkat akhir sarjana dan pascasarjana, profesional yang baru memulai karier, serta praktisi restorasi dari seluruh Filipina guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam bidang restorasi ekosistem.
Melalui kombinasi antara kuliah, studi kasus, pembelajaran lapangan dan pengembangan proyek kolaboratif, program ini berupaya membina generasi baru inisiator restorasi yang siap menghadapi tantangan lingkungan dan sosio-ekonomi di kawasan ini.
Restoration Education sendiri merupakan suatu tema interdisipliner yang melibatkan berbagai bidang ilmu dari universitas di Asia termasuk Fakultas Geografi UGM. Sejumlah institusi yang terlibat di antaranya:
- IPB University (Indonesia)
- Perhutani Forestry Institute (Indonesia)
- Bohol Island State University (BISU, Filipina)
- Kyushu University (Jepang)
- Rangamati Science and Technology University (Bangladesh)
- Hue University of Agriculture and Forestry (HUAF, Vietnam)
- Thai Nguyen University of Agriculture and Forestry (TUAF, Vietnam)
- University of Agricultural and Horticultural Sciences (UAHS, India)
- International Forestry Student Association (IFSA)
- Kasetsart University (Thailand)
- Agriculture and Forestry University (Nepal)
- Royal University of Bhutan (Bhutan)
- Kasetsart University (Thailand)
- Agriculture and Forestry University (Nepal)
- Royal University of Bhutan (Bhutan)

Pada akhir program, para peserta diharapkan mampu menganalisis lanskap sebagai sistem sosio-ekologis yang saling terhubung dengan menelaah hubungan antara faktor-faktor ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi yang memengaruhi hasil restorasi.
Lebih jauh, peserta perlu menilai peran masyarakat, lembaga, dan mekanisme tata kelola dalam membentuk perencanaan dan pelaksanaan restorasi lanskap.
Selanjutnya, proses identifikasi faktor pendorong utama degradasi lanskap dan peluang restorasi dengan menggunakan alat penilaian interdisipliner serta perspektif para pemangku kepentingan juga dilakukan sebagai bagian dari penugasan akhir.
Produk luaran yang dihasilkan yaitu pengembangan dan penyampaian proposal restorasi lanskap terintegrasi yang menggabungkan dimensi ekologi, budaya, tata kelola, dan keuangan dalam konteks Asia.

