Upaya pelestarian dan pemantauan ekosistem terumbu karang di Asia Tenggara kian diperkuat melalui pendekatan kolaborasi berbasis sains. Dalam upaya tersebut, Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono, S.Si., M.Sc., turut berpartisipasi dalam 2026 Marine Resources Initiative Regional Workshop yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Selasa (25/8/26).
Pertemuan ini difokuskan sebagai forum perumusan bersama (co-design) untuk meninjau hasil national scoping sekaligus menyelaraskan prioritas pemantauan nasional dengan agenda kawasan. Hal ini mengingat bahwa perairan Asia Tenggara memiliki keanekaragaman hayati laut yang kaya sekaligus rentan terhadap tekanan lingkungan dan perubahan iklim. Namun, tata kelola dan pemantauan ekosistem selama ini dihadapkan pada kesenjangan kapasitas teknis, aksesibilitas data, serta variasi metodologi antarnegara.
Dalam lokakarya tersebut, para delegasi berhasil merumuskan dan memvalidasi draf 4-Year MRI Regional Workplan (2027–2030). Dokumen strategis ini menjadi peta jalan pemantauan terumbu karang regional selama empat tahun ke depan.
Selain perumusan rencana kerja, pertemuan ini juga menyepakati standar integrasi data pemantauan lintas negara serta mekanisme peluang pemanfaatan platform pemantauan digital berbasis komputasi cerdas, ReefCloud.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia akan membentuk National Focal Point dan National Coordinator Group untuk menyusun Grand Design Monitoring Terumbu Karang Nasional periode 2027–2030 sebagai langkah fundamental dalam melaksanakan monitoring terumbu karang secara long-term dan sustainable. Langkah ini ditujukan untuk membangun ekosistem monitoring yang solid melalui penguatan kapasitas sumber daya, pertukaran pengetahuan antarilmuwan, serta pemanfaatan platform jejaring regional.
Nantinya, hasil lokakarya ini membuka peluang kemitraan dan dukungan pendanaan internasional dari AIMS guna mendukung revitalisasi serta peningkatan pemantauan terumbu karang di tanah air yang terhubung secara terpadu di kawasan Asia Tenggara.
Kegiatan tingkat kawasan ini diprakarsai oleh Australian Institute of Marine Science (AIMS) dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Southeast Asia Maritime Partnership Program. Forum tersebut mempertemukan pakar dan pemangku kepentingan dari lima negara mitra, yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, dan Filipina.

