Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mendukung penguatan sistem perhitungan emisi gas rumah kaca (GRK) sektor Agriculture, Forestry, and Other Land Use (AFOLU) melalui Forum Group Discussion (FGD) Finalisasi SIGN SMART Robust Sektor AFOLU pada Kamis (13/8/26) dan Jumat (14/8/26).
FGD dilaksanakan dengan melibatkan perwakilan dari berbagai lembaga untuk mendapatkan masukan dalam pengembangan sistem perhitungan emisi (Emission Factor Database/EFDB) yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.
Dalam hal ini, Fakultas Geografi UGM turut berpartisipasi melalui Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si. yang hadir sebagai akademisi dan memberikan masukan dalam pembahasan sistem tersebut. Selain Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., turut diundang perwakilan UGM lainnya, yaitu Ir. Lesnanto Multa Putranto,S.T., M.Eng, Ph.D., IPM., SMIEEE., dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM.
Sementara narasumber lain berasal dari BRIN, dan Lingtan Kementerian Pertanian. Selain itu juga hadir wakil dari dinas terkait (LH) dari kabupaten, kota dan provinsi di DIY, Pusdal Jawa, Koordinator Pokja Inventarisasi Gas Rumah Kaca, dam tim CCROM_SEAP IPB serta DASMAP yang membangun sistem.
SIGN SMART Robust sendiri mencakup lima sektor utama yaitu energi, Industrial Process and Product Use (IPPU), limbah, serta Agriculture, Forestry, and Other Land Use (AFOLU).
Sistem ini dirancang untuk menghitung emisi gas rumah kaca dengan mereplikasi Emission Factor Database (EFDB) IPCC yang disesuaikan dengan kondisi lokal, sehingga hasil yang diperoleh lebih sesuai dengan Indonesia.
Nantinya, setiap sektor dapat melakukan perhitungan emisi dan dinas dapat menginput data. Peneliti dan akademisi juga dapat memasukkan hasil penelitian untuk mendukung perhitungan emisi lokal. Sementara itu, pemerintah dapat memanfaatkan data hasil perhitungan sebagai bagian dari inventarisasi data untuk perencanaan mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim.
Dalam FGD ini, pembahasan difokuskan pada sektor AFOLU. Dr. Emilya menekankan pentingnya konsistensi data antarwaktu. Menurutnya, faktor emisi yang digunakan juga perlu memperhitungkan kondisi geografis, meliputi kondisi iklim, jenis tanah, jenis tanaman, dan sistem pengelolaan.
“Dan ini salah satu tantangan terbesarnya jika menggunakan metode Tier 3. Masih perlu dilakukan validasi, persentase ketidakpastian dan prediksi, serta integrasi hasil perhitungan dengan sistem informasi geografi dan penginderaan jauh untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan waktu dan ruang,” lanjutnya.
Menurut Dr. Emilya, pembuatan sistem perhitungan emisi tersebut sangat bermanfaat bagi Indonesia, terutama apabila menggunakan faktor emisi lokal yang sesuai dengan kondisi Indonesia. “Sistem ini dapat mendukung pembangunan perencanaan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan pengurangan emisi karbon (dekarbonisasi) dari lima sektor yang ada,” pungkasnya.
Foto : Unsplash

