Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) menjalin kerja sama dengan PT Abhimantra Sistem Solusindo dalam riset dan pengembangan Geospatial Artificial Intelligence (GeoAI). Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya Fakultas Geografi UGM dalam merespons perkembangan teknologi integrasi data geospasial dan kecerdasan buatan yang semakin pesat.
Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., menyambut baik sinergi pengembangan GeoAI antara Fakultas Geografi UGM dan PT Abhimantra Sistem Solusindo. Dalam agenda seremonial penandatanganan kerja sama pada Kamis (25/6/26) mengatakan bahwa saat ini GeoAI menjadi salah satu isu yang krusial.
“Kolaborasi ini sangat kami perlukan untuk menyegarkan kembali pengalaman dan pembelajaran di Fakultas Geografi UGM. Sehingga nantinya, dengan adanya perjanjian kerja sama ini dapat lebih fungsional dan dituangkan melalui berbagai kegiatan,” ujar Prof. Kamal.
Ia menekankan bahwa kedua pihak nantinya akan mengembangkan kerja sama dalam beberapa lingkup yang relevan dengan kegiatan tridharma perguruan tinggi. Keenam lingkup tersebut di antaranya pembentukan forum riset bersama untuk GeoAI, membangun jejaring dengan melibatkan institusi pendidikan serta lembaga lain baik di dalam maupun luar negeri, peningkatan kemampuan staf dan jejaring, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan, serta peningkatan kredibilitas ilmiah produk data dan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang GeoAI.
Komisaris PT Abhimantra Sistem Solusindo, Munsi Liano Nasution, mengatakan bahwa pengembangan teknologi GeoAI membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik industri, pemerintah, maupun perguruan tinggi.
Ia menambahkan bahwa salah satu kerja sama terdekat yang akan dilakukan adalah pembuatan prospectivity mapping yang akan dimulai September mendatang. Pada tahap awal, kegiatan tersebut akan dilakukan melalui pendataan dasar dengan mendeteksi objek yang ada di seluruh Indonesia.
“Kami membutuhkan dukungan dari universitas khususnya UGM untuk bersama mengembangkan ini untuk mendeteksi potensi kekayaan alam di Indonesia yang belum pernah ada sebelumnya,” ujar Munsi.
Ke depan, sinergi antar berbagai pemangku kepentingan dapat menjadi bahan atau arahan dalam pengambilan kebijakan-kebijakan strategis, mengingat setiap kebijakan membutuhkan basis data spasial.

