Tim Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih Juara I Smart Competition dalam ajang Pre Event Olimpiade Geografi dan Geosains (OGG) yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tim bernama OTW tersebut beranggotakan Naura Aliya Titania (Program Studi Pembangunan Wilayah), Maria Gabrielin Christiadiningtyas (Program Studi Pembangunan Wilayah), dan Hizkil Achmad Dayan (Program Studi Geografi Lingkungan).
Naura, selaku ketua tim, menjelaskan bahwa kompetisi terdiri atas dua tahapan. Pada babak pertama, mengikuti studi kasus dengan mengangkat tema Dampak Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence) Perkotaan Pesisir terhadap Intrusi Air Laut dan Perubahan Kapasitas Penyimpanan Karbon Sedimen Mangrove Fringe dengan studi kasus di kawasan Semarang-Demak.
Ketiganya memilih studi kasus Semarang-Demak berangkat dari fenomena nyata penurunan muka tanah (land subsidence) dan kaitannya dengan kehilangan blue carbon. Menurut Naura, urgensi persoalan tersebut juga mereka temukan saat melakukan pengamatan pada kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) I.
Berdasarkan permasalahan tersebut, Naura bersama tim menawarkan solusi berupa kerangka pengelolaan kawasan perkotaan pesisir yang terintegrasi sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan. Kerangka tersebut menghubungkan upaya pencegahan land subsidence, pemantauan kondisi pesisir, restorasi ekosistem, hingga evaluasi kebijakan dalam satu siklus pengelolaan yang berkesinambungan.
“Dengan demikian, pemerintah tidak lagi menangani subsidence, intrusi air laut, dan kehilangan karbon secara terpisah, tetapi sebagai satu sistem yang saling berkaitan,” ujar Naura.
Ia menambahkan, kerangka kerja yang dikembangkan timnya berpotensi meningkatkan ketahanan kawasan pesisir terhadap perubahan iklim melalui pengendalian land subsidence dan perlindungan cadangan blue carbon.
“Artinya, manfaat yang dihasilkan tidak hanya berupa berkurangnya risiko intrusi air laut dan land subsidence, tetapi juga terjaganya cadangan karbon pada sedimen mangrove sehingga potensi blue carbon loss dapat diminimalkan. Hal ini menjadikan upaya mitigasi perubahan iklim dan adaptasi pesisir dapat berjalan secara bersamaan,” jelasnya.
Setelah menyelesaikan babak studi kasus, tim OTW melanjutkan kompetisi pada babak kedua yaitu cerdas cermat dengan tema pertanyaan The Carbon Echo: Bridging Geological CCS Potentials with Ocean Carbon Sinks and Atmospheric Footprint Reduction.
Naura berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi tim untuk terus mengeksplorasi pengetahuan, menghasilkan prestasi, serta memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

