Sebagai upaya mengurangi risiko bencana pesisir akibat perubahan iklim, seperti erosi, gelombang badai, dan kenaikan permukaan air laut, Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Jepang menyelenggarakan Program Pelatihan Proyek Pesisir Hijau-Abu-abu pada Rabu (22/7/26) hingga Selasa (28/7/26) di Jepang.
Dalam kegiatan ini, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) turut terlibat melalui Prof. Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si., yang berperan memberikan arahan akademik dan keahlian di bidang geografi pesisir serta pengelolaan wilayah pesisir terpadu.
Keterlibatan Geografi UGM juga diwakili Aulia Syifa Ardiati, mahasiswa Program Magister Perencanaan Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS), yang berkontribusi dalam perencanaan konservasi dan pengelolaan wilayah pesisir. Selain UGM, juga melibatkan pelaksana dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Pekerjaan Umum (PUPR).
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas peneliti dan perencana Indonesia dalam merancang pendekatan perlindungan pesisir yang berkelanjutan melalui penggabungan infrastruktur hijau, seperti hutan bakau dan vegetasi pesisir, dengan infrastruktur abu-abu, seperti tanggul laut dan pemecah gelombang. Pendekatan tersebut dikenal sebagai Struktur Hibrida Hijau-Abu-abu.
Selama tujuh hari, peserta mendapatkan pembekalan teori sekaligus pengalaman langsung di lapangan untuk memahami penerapan konsep struktur hibrida dalam perlindungan pesisir. Salah satunya melalui kunjungan ke Pantai Iioka di Chiba untuk mengamati langsung langkah-langkah pencegahan bencana pesisir hibrida, termasuk vegetasi pesisir di depan tanggul laut serta upaya restorasi pascabencana tsunami.
Para peserta juga melakukan pertukaran pendapat di kantor pusat Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata (MLIT) Jepang mengenai kebijakan pencegahan bencana pesisir, kerja sama internasional, serta strategi operasi dan pemeliharaan infrastruktur hibrida.
Di Pantai Teluk Sendai dan Pelabuhan Sendai, peserta mempelajari rekonstruksi tanggul laut pascabencana tsunami tahun 2011 serta integrasi infrastruktur hijau pada fasilitas pelabuhan dan pesisir. Peserta kemudian mengunjungi Pantai Gamo dan lokasi pemantauan Gamo untuk mengenal hutan pesisir sebagai peredam tsunami, perubahan topografi pascatsunami, serta penerapan Ecosystem-based Disaster Risk Reduction (Eco-DRR) dalam mengurangi dampak bencana.
Tidak hanya kawasan pesisir, peserta juga mengunjungi Gunung Kurikoma, Taman Geologi Wilayah Kurikoma, lokasi longsor Aratosawa, dan Pusat Pengunjung Taman Geologi. Dalam kunjungan tersebut, peserta mempelajari kasus tanah longsor dan bencana pegunungan serta model pendidikan dan pameran kebencanaan yang terintegrasi dengan masyarakat, sehingga memberikan perspektif menyeluruh tentang manajemen bencana dari hulu hingga hilir.
Sebagai puncak kegiatan, peserta mengikuti diskusi teknis di Port and Airport Research Institute (PARI) mengenai eksperimen model hidrolika, simulasi numerik, dan perumusan pedoman teknis Struktur Hibrida Hijau-Abu-abu. Pedoman tersebut nantinya akan diintegrasikan dalam rencana eksperimen SATREPS Tema-3, sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang perlu direfleksikan agar sesuai dengan kondisi Indonesia.
Program pelatihan ini diselenggarakan dalam kerangka kerja sama Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) yang didanai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Science and Technology Agency (JST).
Keterlibatan pelaksana dari berbagai institusi, baik akademisi, peneliti, maupun praktisi kebijakan, diharapkan menjadi jembatan bagi transfer pengetahuan dan teknologi dari Jepang ke Indonesia. Hasil pelatihan juga diharapkan dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi dan karakteristik wilayah pesisir Indonesia yang sangat beragam, mulai dari pesisir utara Jawa yang rawan rob hingga pesisir timur Indonesia yang sering terdampak gelombang ekstrem.


