Sebanyak 298 mahasiswa bersama 14 dosen pembimbing mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) satu Tahun Akademik 2025/2026 dengan lintasan pengamatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah, dari wilayah selatan menuju utara selama lima hari, Rabu (24/7/26) hingga Minggu (28/7/26).
Dr.rer.nat Muhammad Anggri Setiawan, M.Si., Koodinator KKL 1 mengatakan bahwa jalur tersebut dipilih untuk memperlihatkan keragaman bentang lahan Pulau Jawa Bagian Timur sebagai satu kesatuan pembelajaran geografi terpadu.
Kegiatan KKL ini dirancang sebagai momen integrasi antara konsep-konsep geografi yang dipelajari di ruang kelas dengan kondisi nyata di lapangan. Pada KKL 1, setiap stopsite yang dikunjungi mewakili karakteristik geomorfologi tertentu, sehingga mahasiswa dapat memahami perubahan bentang lahan secara bertahap di sepanjang lintasan perjalanan
“Rangkaian pengamatan yang melintasi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah berhasil memperlihatkan keragaman bentang lahan Indonesia mulai dari kawasan vulkanik, karst, struktural, fluvial, pesisir, hingga perkotaan. Dengan demikian, tujuan utama KKL 1 sebagai sarana integrasi teori geografi dengan praktik observasi lapangan dapat tercapai secara optimal,” jelasnya.
Pada setiap lokasi pengamatan dan selama perjalanan antar lokasi, mahasiswa memperoleh penjelasan langsung dari dosen mengenai karakteristik bentang lahan, proses pembentukannya, potensi sumber daya alam, risiko kebencanaan, serta pemanfaatan ruang oleh masyarakat.
Rute Pengamatan Bentang Lahan
Di hari pertama, mahasiswa peserta KKL mengunjungi tiga stopsite meliputi Tebing Banyunibo, Sleman, untuk memperkenalkan karakteristik bentang lahan struktural dan vulkanik, hubungan litologi dengan morfologi, serta proses geomorfologi yang membentuk tebing batuan.
Stopsite kedua yaitu Museum Karst Pracimantoro, Wonogiri, untuk memperoleh pemahaman mengenai bentang lahan karst, proses pelarutan batu gamping, sistem gua, hidrologi bawah permukaan, serta evolusi kawasan karst. Kemudian berlanjut menuju Bendungan Gajah Mungkur, Wonogiri, untuk mengamati pemanfaatan sumber daya air, sistem DAS, fungsi bendungan dalam pengendalian banjir, irigasi, dan pengelolaan sumber daya wilayah.
Pada hari kedua, perjalanan dilanjutkan menuju wilayah Jawa Tengah bagian timur. Mahasiswa mempelajari singkapan batuan, evolusi geologi kawasan Sangiran, dinamika gerakan massa tanah (soil creep), serta fenomena mud volcano (Bledug Kuwu) sebagai manifestasi geologi yang unik di Indonesia.
Memasuki hari ketiga, rute perjalanan diarahkan menuju kawasan pesisir utara Jawa. Pengamatan difokuskan pada perkembangan bentang lahan karst utara Jawa, aktivitas ekonomi pesisir berupa tambak perikanan, dinamika wilayah pantai, serta hubungan antara karakter fisik wilayah dengan perkembangan sejarah dan budaya pesisir.
Sementara itu, pada hari keempat, perjalanan berlanjut menuju wilayah pesisir dan perkotaan Semarang. Mahasiswa mempelajari dinamika oseanografi pantai, pengamatan pasang surut, sistem pengendalian banjir perkotaan, serta perkembangan morfologi dan tata ruang kawasan perkotaan bersejarah di Kota Semarang.
Hari terakhir, mahasiswa diarahkan menuju kawasan pegunungan vulkanik seperti Taman Bandungan Baru, Rawa Pening, dan Intake Karangtalun. Pengamatan pada hari terakhir ini difokuskan pada bentang lahan vulkanik, danau alami, proses sedimentasi, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), konservasi tanah dan air, serta hubungan antara proses geomorfologi dengan pengelolaan sumber daya lahan.
Selama KKL berlangsung, mahasiswa tidak hanya melakukan observasi langsung, melainkan juga melakukan pencatatan lapangan, dokumentasi, diskusi, dan interpretasi fenomena geografi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat menjadi fondasi yang kuat bagi mahasiswa dalam mengikuti KKL dua dan KKL tiga, sekaligus meningkatkan kemampuan observasi, analisis keruangan, serta pemahaman terhadap hubungan antara proses alam dan aktivitas manusia dalam suatu bentanglahan.

