Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono, S.Si., M.Sc., menilai pengembangan Ocean Calculator perlu didukung kelimpahan data agar mampu menghasilkan informasi yang semakin andal dalam mendukung pengelolaan ekosistem pesisir dan laut.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Ocean Calculator Introduction and Pilot Integration with SIDAKO: From Data to Decision: Charting the Future of Our Seas yang diselenggarakan oleh WRI Indonesia bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia pada Sabtu (20/6/26).
Kegiatan tersebut memperkenalkan purwarupa Ocean Calculator, alat ukur geospasial berbasis Neraca Sumber Daya Laut (NSDL) untuk menghitung nilai ekonomi ekosistem laut dan pesisir.
Dalam sesi umpan balik para ahli, Prof. Prama menyampaikan sejumlah masukan strategis terkait data geospasial dan fondasi ilmiah yang perlu dikembangkan dalam pengembangan Ocean Calculator.
Pada konteks pembahasan mengenai keandalan data spasial untuk akuntansi blue carbon di tingkat nasional, menurutnya harus selalu dikembalikan pada konteks skala pemetaan yang digunakan. “Kalau mengatakan data itu akurat atau tidak, harus dikembalikan lagi pada konteks skalanya. Penggunaan Landsat 8 dan Sentinel-2 seperti yang digunakan pada Ocean Calculator ini cocok untuk skala 1:50.000 hingga 1:100.000 untuk menghasilkan informasi tematik, mengingat informasi tersebut berkaitan dengan sumber daya alam dan ekosistem pesisir,” jelasnya.
Menurut Prof. Prama, pengembangan sistem tidak cukup hanya menyajikan kondisi ekosistem saat ini. Ocean Calculator juga perlu mampu menampilkan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu maupun menyediakan data historis untuk memahami dinamika perubahan ekosistem. Karena itu, ia mendorong pengembangan Time Series Analysis yang andal agar perubahan yang ditampilkan benar-benar merepresentasikan kondisi di lapangan.
“Time Series Analysis yang reliabel diperlukan sehingga perubahan betul-betul karena kondisi berubah, bukan karena bias akibat pemetaan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menilai informasi tematik perlu terus diperdalam. Menurutnya, pengembangan tidak hanya berhenti pada informasi umum mengenai ekosistem lamun, terumbu karang, dan mangrove, tetapi juga perlu mengarah pada kondisi biofisik hingga biodiversitasnya. Pendetailan tersebut menjadi penting untuk mendukung valuasi jasa ekosistem dan perhitungan nilai ekonomi sumber daya pesisir secara lebih komprehensif. “Ini menjadi salah satu roadmap ke depan untuk meningkatkan performa sistem ini,” katanya.
Lebih lanjut, Prof. Prama menambahkan bahwa perhitungan potensi karbon biru maupun kondisi ekosistem pesisir menggunakan tingkat pemetaan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tingkat akurasi data pada setiap lokasi perlu ditampilkan secara transparan di dalam platform sehingga pengguna memahami kualitas data yang digunakan.
Secara keseluruhan, ia menilai fitur Ocean Calculator telah cukup lengkap. Namun, pengembangan selanjutnya perlu difokuskan pada peningkatan kelimpahan data melalui partisipasi berbagai pihak dalam penyediaan data (citizen science) lintas sektor. “Fiturnya sudah lengkap. Yang perlu kita dorong sekarang adalah kelimpahan data. Partisipasi berbagai pihak dari lintas sektor dalam pengumpulan data akan sangat baik untuk memperkaya data yang digunakan sistem,” pungkasnya.

