Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr.rer.nat. Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc., memaparkan hasil riset kebencanaan dalam forum internasional Taiwan-Japan-Indonesia Disaster Research Exchange Workshop yang diselenggarakan oleh National Taipei University pada Rabu (10/6/26) hingga Kamis (11/6/26).
Forum tersebut merupakan wadah untuk berbagi pengalaman sekaligus mengidentifikasi peluang kerjasama lanjutan dengan berbagai ahli yang memiliki bidang kajian terkait.
“Kegiatan ini membuka peluang kolaborasi di masa mendatang dengan expertis dan area riset yang saling terkait atau beririsan,” ujar Prof. Aris.
Dalam paparannya, ia menyampaikan riset Retreating From Risk (RFR), proyek kolaborasi pihaknya dengan mitra internasional yaitu Amerika Serikat dan Kanada yang masih terus berjalan hingga periode 2027–2028.
Lanjutnya, proses evaluasi proposal bersama National Geographic Foundation juga masih berlangsung sebagai salah satu peluang pengembangan riset lanjutan yang melibatkan kolaborasi dengan Taiwan dan Belanda.
“Ekstensi dan pengembangan sangat dimungkinkan untuk menjawab tuntutan serta permasalahan yang belum terselesaikan,” terangnya.
Workshop tersebut diikuti oleh sejumlah institusi dari Jepang, Indonesia, dan Taiwan, di antaranya Chiba University, Nagoya Institute of Technology, National Research and Innovation Agency (BRIN), Universitas Gadjah Mada, Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Siliwangi, dan National Taipei University.
Selain sesi workshop, peserta melakukan kunjungan lapangan ke National Science and Technology Center for Disaster Reduction (NCDR) Taiwan untuk berbagi pengalaman terkait penanganan kebencanaan. Selain itu, peserta juga mengunjungi Mingxing Community di Taipei City, sebuah percontohan kampung tangguh bencana berbasis komunitas yang meraih penghargaan Disaster Prevention Demonstration Community.
Sebagai tindak lanjut, kedepannya akan dilaksanakan kolaborasi riset antara National Taipei University, UGM, dan Chiba University. “Selain itu, kami juga akan menjajaki pembentukan konsorsium sebagai wadah komunikasi dan kolaborasi riset terkait climate change, disaster dan development” pungkasnya.



