Bagi sebagian besar dari kita, masalah air sering kali hanya sebatas tagihan bulanan atau keran yang bocor. Namun, jika Anda melangkah meninjau atau menyaksikan secara tidak langsung melalui berita di kanal digital atau media ke dalam ruang sidang UN Water Conference dan pertemuan iklim global, Anda akan menyadari bahwa narasi tentang air telah berubah drastis. Air tidak lagi dipandang sekadar sebagai komoditas rumah tangga, melainkan sebagai pusat gravitasi geopolitik, kelangsungan hidup umat manusia, dan ancaman keamanan global.
Sustainable Development Goals
Konsorsium Penelitian Forest City yang melibatkan berbagai institusi di Indonesia dan Belanda resmi menyelesaikan rangkaian kegiatan penelitiannya. Sejak dimulai pada 2021, konsorsium ini telah menghasilkan beragam luaran penelitian juga kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Forest City merupakan konsorsium penelitian yang berfokus pada kajian pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan. Konsorsium ini dipimpin oleh Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc., sebagai PI dari Indonesia dan Prof. Kei Otsuki sebagai PI dari Belanda.
Sebanyak 101 mahasiswa Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh (KPJ) Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 2 di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada Senin (29/6/26) hingga Jumat (3/7/26). Melalui kegiatan ini, mahasiswa melakukan akuisisi data geospasial sebagai dasar penyusunan basis data untuk mendukung pengembangan potensi agrowisata di Kabupaten Magetan.
Hal ini berangkat dari keberadaan Kabupaten Magetan yang merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mengandalkan sektor pertanian dan pariwisata untuk mendukung pembangunan daerah. Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya, wilayah tersebut berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan agrowisata sehingga memerlukan pengelolaan berkelanjutan, salah satunya berbasis data geospasial.
Sebanyak 112 mahasiswa Program Studi Geografi Lingkungan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) didampingi 10 dosen melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 2 di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada Senin (29/6/26) hingga Jumat (3/7/26). Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran lapangan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menerapkan konsep dan metode geografi lingkungan secara langsung di lapangan.
KKL merupakan kegiatan pembelajaran yang rutin diselenggarakan pada semester genap. Melalui kegiatan ini, mahasiswa menerapkan konsep dan metode geografi lingkungan melalui observasi, survei, wawancara, pengumpulan data primer, serta analisis kondisi fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan secara langsung di lokasi penelitian.
Di tengah ancaman bencana perubahan iklim, data iklim dinilai dapat menjadi fondasi utama yang digunakan dalam pemetaan risiko dan penyusunan proyeksi iklim untuk mewujudkan tata ruang yang adaptif sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Pakar Klimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., menyampaikan hal tersebut dalam siaran langsung RRI Pro 3 “Early Warning System : Strategi Tata Kelola Ruang di Era Krisis Iklim” , Senin (13/7/26).
Dr. Emilya menjelaskan bahwa dalam perencanaan tata kelola ruang, terdapat peran data iklim, pemetaan risiko, dan proyeksi iklim yang tidak kalah penting. Ketiganya merupakan komponen yang menjadi pondasi utama untuk mewujudkan tata ruang yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono, S.Si., M.Sc., menilai pengembangan Ocean Calculator perlu didukung kelimpahan data agar mampu menghasilkan informasi yang semakin andal dalam mendukung pengelolaan ekosistem pesisir dan laut.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Ocean Calculator Introduction and Pilot Integration with SIDAKO: From Data to Decision: Charting the Future of Our Seas yang diselenggarakan oleh WRI Indonesia bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia pada Sabtu (20/6/26).
Dalam upaya memperkuat kualitas riset dan pengabdian kepada masyarakat, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Workshop Reviewer dan Etika Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) pada Senin (28/07). Kegiatan yang diikuti oleh seluruh dosen Fakultas Geografi ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis dalam mereview proposal penelitian, tetapi juga menekankan pentingnya menjunjung tinggi etika dalam seluruh pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
Dalam upaya memperkuat jejaring internasional, dua dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Dyah Rahmawati Hizbaron dan Dr. rer. nat. Arry Retnowati menjadi pembicara dalam program International Guest Lecture yang diselenggarakan oleh Universitas Duisburg-Essen (UDE), Jerman, pada periode 13–22 Juni 2025.
Kerja sama antara Fakultas Geografi UGM dan UDE bukanlah hal baru. Kolaborasi ini telah terjalin sejak kunjungan Prof. Dr. Rudolf Juchelka ke UGM dalam rangka akreditasi internasional yang dilaksanakan oleh lembaga akreditasi ternama, ASIIN.
Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) WP 2.1 & 2.2 yang berjudul “Penyamaan Persepsi Hasil Kajian Landscape Dynamic dan Geoportal Tahap 2” yang berlanjut dengan “Sinkronisasi Hasil Kajian EbA di DAS Brantas”. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Porta by Ambarukmo Yogyakarta pada Rabu-Kamis, 16-17 Juli 2025 bertujuan untuk mengidentifikasi theoretical gap kebijakan perubahan iklim berbasis FOLU Net Sink 2030 dengan praktik baik berbasis ekosistem di level tapak sebagai input di Sistem Geoportal. Sementara itu, kegiatan FGD 3 bertujuan untuk memetakan kesesuaian dan efektivitas matriks indikator bagi calon pengguna. FGD ini dihadiri oleh kurang lebih 30 peserta dari IP UGM dan berbagai unit pelaksana FOLU Net Sink tahun 2025.
Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Ujian Terbuka Promosi Doktor yang diikuti oleh Agung Satriyo Nugroho, S.Si., M.Sc. Dalam kesempatan ini, Agung mempresentasikan hasil penelitiannya yang mengangkat tema “Regionalisme Trans-Nasional dalam Organisasi Keruangan Kawasan Perbatasan Negara Indonesia” dengan studi kasus Pulau Sebatik.
Kawasan perbatasan selama ini masih identik dengan ketertinggalan dan ketimpangan dalam pembangunan, padahal kawasan tersebut memiliki posisi strategis baik secara ruang geografis maupun sosial-budaya masyarakat antar negara. Berangkat dari fenomena tersebut, Agung merumuskan konsep baru yang mengadopsi dari paradigma trans-nasionalisme dalam memahami karakter suatu wilayah.

