Di tengah era global yang memberikan tekanan secara lebih kompleks pada alam, strategi proaktif berbasis science-based evidence sangat diperlukan untuk mengurangi risiko bencana dan membangun ketahanan iklim. Terlebih, topik ini menjadi sangat menarik jika ditinjau dari beragam pendekatan multi disiplin, bahkan transdisiplin. Oleh karena itu, Swasaba Research Initiative (SRI) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan University of Waterloo, Kanada, menggelar Workshop Strategi Proaktif Mengurangi Risiko Bencana dan Membangun Ketahanan Iklim pada Senin (22/6/26).
Workshop ini bertujuan untuk memberikan media diskusi bagi akademisi dan praktisi dalam upaya pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim sehingga diharapkan mampu menghasilkan peningkatan pemahaman secara meluas dan berdampak.
Dr. Dyah Rahmawati Hizbaron, S.Si., M.T., M.Sc., narasumber dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan bahwa aspek keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting yang didiskusikan dalam upaya meningkatkan peran masyarakat dalam pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim.
“Contoh penelitian yang berdampak pada kasus bencana banjir dan longsor di Sumatera menjadi salah satu bukti nyata betapa pentingnya pelibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut,” terangnya.
Selain sebagai penerima manfaat, lanjutnya, masyarakat juga merupakan komponen penting dalam proses inisiasi program, pelaksanaan program, serta monitoring dan evaluasi program pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim.
Menurutnya, pengelolaan lahan hutan yang lebih berkelanjutan menjadi salah satu bukti nyata pentingnya upaya tersebut sebagai pengendali laju degradasi lahan yang berujung pada banjir dan longsor.
“Kegiatan ini menjadi media penting untuk mengidentifikasi langkah selanjutnya bagi Indonesia dalam penguatan peran masyarakat pada era ekonomi karbon hijau maupun ekonomi karbon biru yang sedang dikembangkan Indonesia di masa mendatang,” pungkasnya.
Workshop ini dihadiri setidaknya 30 peserta yang terdiri atas mahasiswa, peneliti, dan praktisi. Kegiatan ini pun melibatkan setidaknya 10 alumni Fakultas Geografi UGM yang berkontribusi sebagai penggagas agenda, narasumber dan peserta.


