Kawasan Asia-Pasifik dikenal sebagai wilayah yang rentan terhadap bencana, terutama banjir. Di Indonesia sendiri, risiko tersebut meningkat seiring pengaruh hujan monsun, kondisi geografis, serta percepatan urbanisasi yang kian masif. Kondisi ini menegaskan perlunya penguatan sistem pemantauan dan peringatan dini yang lebih efektif.
Seiring perkembangan teknologi, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan analisis data spasial-temporal dinilai dapat menjadi solusi untuk membantu mengurangi risiko bencana.
Menanggapi hal tersebut, United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Keluarga Alumni Geografi Universitas Gadjah Mada (KAGEGAMA) menyelenggarakan “Training and Youth Forum on Artificial Intelligence and Spatiotemporal Data for Flood Impact Analysis”. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, Selasa (5/5/26) hingga Kamis (7/5/26), di Gedung KLMB Fakultas Geografi UGM.
Kagiatan ini ditujukan untuk mendorong peningkatan kapasitas institusi dalam memanfaatkan AI dan data geospasial untuk analisis dampak banjir. Selain itu, forum ini juga diarahkan untuk memperkuat keterlibatan pemuda serta membuka peluang kolaborasi.
Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Dr. Ir. R. Nunung Nuryartono selaku Deputy for Development Policy BRIN, Dr. Eng. Budi Prawara selaku Head of OREI BRIN, Prof. Dr. Muhammad Kamal selaku Dekan Fakultas Geografi UGM, serta Dr. Joncik Muhammad, S.H., M.H. selaku Ketua KAGEGAMA yang juga menjabat Bupati Empat Lawang.
Forum ini diikuti sebanyak 22 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, baik dari kalangan profesional muda, peneliti, pejabat lembaga penanggulangan bencana, akademisi, hingga perwakilan pemerintah daerah.
Pada hari pertama, peserta mengikuti sesi “AI and Geospatial Technologies for Disaster Risk and Environmental Monitoring – Country Case Studies” serta pemaparan inovasi AI dan geospasial. Kegiatan kemudian berlanjut pada hari kedua dengan demonstrasi SatGPT, pengerjaan proyek kelompok, dan sesi mentoring. Adapun pada hari ketiga, forum diisi dengan diskusi pemuda, presentasi proyek, serta pembahasan peluang pengembangan AI ke depan.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dalam penggunaan alat geospasial berbasis AI, termasuk SatGPT. Selain itu, kegiatan ini juga membuka pemahaman terhadap berbagai inisiatif AI dan geospasial yang dikembangkan oleh ESCAP dan BRIN, sekaligus mendorong terbentuknya kolaborasi dan inovasi melalui forum pemuda dan lokakarya.


