Awal tahun 2026 diperkirakan berada dalam periode kerentanan tinggi terhadap cuaca ekstrem. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius baik terhadap keselamatan jiwa, infrastruktur, ketahanan pangan, dan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat.
Menghadapi situasi tersebut, Pakar Kebencanaan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Sc. Andung Bayu Sekaranom, S.Si., M.Sc., mengatakan bahwa diperlukan langkah mitigasi yang dilakukan secara menyeluruh. Mitigasi dapat dilakukan melalui pendekatan nonstruktural seperti tindakan dini berbasis anticipatory action dan ekosistem serta pendekatan struktural dalam pengelolaan dan pengendalian dampak fisik bencana.

