Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mendorong pengembangan potensi wilayah Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, melalui pendekatan pembangunan berbasis keilmuan, inovasi, dan keberlanjutan lingkungan.
Hal tersebut menjadi bagian dari pembahasan bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mengenai pengembangan Geopark Muna Raya, kawasan transmigrasi bahari (Trans Marine), pengelolaan wilayah pesisir terpadu, hingga penguatan sektor pariwisata dan ekonomi maritim pada Selasa (27/10/26) di Fakultas Geografi UGM.
Kabupaten Buton Tengah memiliki bentang alam karst dan kawasan gua yang menyimpan potensi besar untuk kegiatan penelitian, pendidikan, serta pengembangan wisata berbasis konservasi.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas pengembangan Geopark Muna Raya sebagai kawasan yang mengintegrasikan kekayaan geologi, sejarah kehidupan manusia, keanekaragaman hayati, dan pariwisata alam. Keberadaan sejumlah gua purba di Pulau Muna, termasuk situs yang memiliki jejak aktivitas manusia prasejarah.
Potensi tersebut dinilai membuka peluang pengembangan kawasan sebagai laboratorium alam yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian multidisiplin, antara lain geologi, geomorfologi, arkeologi, biodiversitas, dan pengelolaan lingkungan.
Selain geopark, kedua pihak membahas konsep pengembangan kawasan transmigrasi bahari atau Trans Marine sebagai model pembangunan permukiman dan ekonomi masyarakat yang bertumpu pada potensi sumber daya kelautan. Sementara itu, budidaya lobster menjadi salah satu kegiatan ekonomi utama yang diusulkan, didukung oleh pengembangan usaha perikanan lainnya, seperti budidaya ikan konsumsi, kerang penghasil mutiara, dan pemanfaatan komoditas kelautan lokal.
Konsep Regenerative Maritime atau regeneratif maritim juga menjadi salah satu gagasan strategis yang didiskusikan. Pendekatan tersebut menekankan bahwa pembangunan ekonomi maritim tidak cukup hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya, tetapi juga perlu memperhatikan pemulihan ekosistem pesisir dan laut, penguatan ekonomi biru, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Beberapa potensi pengembangan yang turut dibahas meliputi revitalisasi permukiman masyarakat Bajo, pengelolaan ekosistem pesisir, budidaya rumput laut, serta penguatan industri pengolahan hasil perikanan. Pengembangan berbagai sektor tersebut memerlukan dukungan data spasial, penelitian ilmiah, dan perencanaan wilayah yang komprehensif.
Dalam konteks ini, keilmuan geografi memiliki peran penting untuk mendukung analisis karakteristik wilayah, evaluasi kesesuaian lahan, pemetaan potensi sumber daya, serta perumusan kebijakan pembangunan berbasis bukti.
Pertemuan juga membahas peluang penguatan kerja sama antara Pemerintah Daerah dan Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan riset, pendidikan tinggi, serta inovasi yang berorientasi pada kebutuhan wilayah kepulauan.
Penguatan basis data dan penelitian menjadi aspek penting untuk memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan didasarkan pada kondisi aktual wilayah, potensi sumber daya, daya dukung lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, turut dijajaki peluang penyelenggaraan diskusi lanjutan yang melibatkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan berbagai pusat studi di UGM. Forum tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan pembangunan daerah dengan kapasitas akademik, penelitian, dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi.


