Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, musim kemarau kali ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dengan potensi El Niño yang dapat memperparah kondisi kekeringan. Pemerintah maupun masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi dampaknya.
Hal tersebut disampaikan Dr. Emilya Nurjani, M.Si., Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam siaran Dialog Tanggap Bencana RRI Pro 1 Yogyakarta yang membahas penanganan kondisi kekeringan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Menurut Dr. Emilya, pada tahun ini terdapat potensi El Niño dengan anomali suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal. Jika umumnya anomali suhu maksimum berada pada kisaran 1,5 derajat Celsius, tahun ini diperkirakan dapat mencapai 2,5 hingga 3 derajat Celsius.
“Sehingga akan lebih panas dan kemudian menyebabkan dampak dari musim kemarau tahun ini berupa kekeringan yang lebih parah,” jelasnya.
El Niño merupakan fenomena iklim yang secara alami dapat berulang dalam rentang dua hingga tujuh tahun. Menurut Dr. Emil, meski karakter El Niño dengan intensitas sebesar ini belum banyak diperhitungkan sebelumnya, pola kejadian yang berulang menunjukkan bahwa fenomena serupa berpotensi terjadi kembali pada masa mendatang.
Ia juga menekankan bahwa setiap daerah memiliki indikator siaga kekeringan yang berbeda sesuai karakteristik wilayahnya. Di Kabupaten Gunungkidul, misalnya, status siaga darurat telah diberlakukan ketika wilayah tersebut mengalami 31 hari tanpa hujan.
“Ini merupakan sesuatu yang sudah diperhitungkan bahwa hujan tidak turun selama 31 hari maka sudah memasuki siaga darurat,” ujarnya.
Berbeda halnya dengan Gunungkidul, di Kabupaten Sleman status siaga kekeringan baru diberlakukan setelah sekitar 60 hari tanpa hujan.
“Ini penting dipahami oleh setiap daerah kapan menyiagakan darurat bencana kekeringan mengingat kebutuhan atau curah hujan berbeda,” tambahnya.
Kekeringan ini merupakan kondisi ketika curah hujan berada di bawah kondisi normal, baik dalam satu bulan, satu musim, maupun satu tahun. Pada musim kemarau, jumlah curah hujan memang lebih rendah dibandingkan musim penghujan, namun tingkat kekeringan setiap wilayah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor curah hujan.
Tidak hanya curah hujan, ia menjelaskan bahwa berbagai karakteristik seperti geologi, topografi, bentuk lahan, hingga vegetasi dapat mempengaruhi tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap kekeringan. Contohnya, lanjut Dr. Emil, bahwa kondisi di Gunungkidul dipengaruhi oleh jenis batuan yang lebih banyak menyimpan air di bawah permukaan tanah.
“Bukan karena curah hujan lebih sedikit, tetapi karena batuannya tidak menyimpan air di permukaan, melainkan di dalam,” jelasnya.
Sementara itu, wilayah seperti Sleman dan Bantul memiliki kondisi geologi yang berbeda sehingga memiliki lebih banyak sungai dan mata air di permukaan. “Ada banyak hal yang mempengaruhi kekeringan dan harus dilihat satu persatu dari segi bahayanya, kerentanan bahkan risiko terhadap makhluk hidup di setiap wilayah,” pungkasnya.

