Merespons tantangan urbanisasi yang semakin cepat, Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan The G20 Global Land Initiative (G20 GLI), United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD), dan United Nations University – Institute for Environment and Human Security (UNU-EH) sukses menggelar lokakarya daring bertajuk “Trigger Change! Innovations in Sustainable Urban Land Restoration” pada Selasa (6/10/26) hingga Jumat (9/10/26) secara virtual melalui Zoom.
Pelatihan bagi para instruktur dan pendidik yang dikemas dalam bentuk Online Training of Instructors Workshop ini dihadiri oleh 238 peserta terdaftar dari berbagai negara. Acara ini turut menghadirkan pembicara dari perwakilan institusi ternama, seperti TH Köln (Jerman), G20 GLI, UGM, UNU-EH, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (BAPPENAS RI), Ain Shams University, CEPT University, FAO Green Cities, hingga Kenyatta University.
Melalui acara ini, para peserta yang mayoritas merupakan dosen, peneliti, dan praktisi dibekali dengan pemahaman dan pengetahuan untuk mengatasi tantangan kelembagaan terkait Sustainable Urban Land Restoration (SULR) dalam kurikulum mereka. Hal ini mengingat lebih dari separuh populasi dunia telah menetap di wilayah urban, urgensi untuk mengedukasi generasi muda tentang cara memulihkan lahan terdegradasi menjadi sangat penting.
Paket yang diberikan mencakup lima modul utama, panduan kursus, presentasi dalam bentuk PowerPoint, serta 10 studi kasus yang dirancang agar siap diajarkan kembali kepada mahasiswa dan siswa di institusi masing-masing.
Sementara studi kasus yang dibedah untuk bahan ajar sangat beragam, mulai dari transformasi lahan pembuangan akhir (TPA) menjadi taman kota di Malaysia hingga penanganan banjir rob dan penurunan muka tanah di kawasan pesisir Pekalongan dan Jakarta Utara, Indonesia.
Para peserta menyadari bahwa tantangan terbesar dalam mengajarkan SULR adalah bagaimana menerjemahkan teori yang ada ke dalam bentuk yang nyata. Alejandra Ramos, pembicara dari UNU-EHS, menekankan pentingnya pendekatan studi kasus. “Teori dan konsep restorasi akan menjadi lebih masuk akal dan konkret setelah diperkaya dengan pengalaman para dosen dan praktisi dari berbagai bidang perkotaan,” ungkapnya.
Di sisi lain, Karen Sudmeier dari G20 GLI, salah satu pembicara utama, menegaskan kepada para calon instruktur bahwa kelestarian alam dan kebutuhan manusia harus seimbang. “Konservasi tidak boleh dianggap sebagai pilihan antara melindungi alam atau mendukung pembangunan kota. Sebaliknya, kita harus menemukan cara untuk mengintegrasikan keduanya, memastikan bahwa perlindungan ekosistem berjalan beriringan dengan upaya menjaga mata pencaharian masyarakat lokal,“ tegas Karen.
Sebagai tindak lanjut dari lokakarya ini, para pendidik didorong untuk segera mengambil langkah konkret dengan mengadopsi modul kursus dan studi kasus lokal tersebut ke dalam mata kuliah yang sudah ada, tanpa harus menunggu proses formal untuk membuka mata kuliah baru.
“Trigger Change! Innovations in Sustainable Urban Land Restoration” berhasil membentuk sebuah komunitas lintas negara untuk berbagi pengetahuan secara berkelanjutan. Ke depannya, para peserta akan terus terhubung melalui jejaring universitas seperti Centers for Natural Resources and Development (CNRD), yang membuka peluang besar untuk pelaksanaan proyek gabungan mahasiswa, pertukaran dosen tamu, dan pembagian sumber daya pembelajaran antarnegara guna memastikan semangat pemulihan ekosistem perkotaan terus menyala.




