• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Geografi
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi, Misi dan Tujuan
    • Sambutan Dekan
    • Manajemen
      • Pimpinan Fakultas
      • Senat Fakultas
      • Pengelola Departemen
      • Pengelola Program Studi
    • Civitas Akademika
      • Dosen
      • Staf Kependidikan
  • Pendidikan
    • Program Sarjana
      • Geografi Lingkungan
      • Kartografi dan Penginderaan Jauh
      • Pembangunan Wilayah
      • International Undergraduate Program
    • Program Pascasarjana
      • Program Studi Magister Geografi
      • Program Studi Magister Geografi Minat Pembangunan Wilayah
      • Program Studi Magister Geografi Minat MPPDAS
      • Program Studi Magister Penginderaan Jauh
      • Program Studi Doktor Geografi
    • Admisi
      • Program Sarjana
      • Program Pascasarjana
      • Program Fast Track S1 – S2
      • MATRIKULASI D4 ke S1
    • Akreditasi
  • Akademik & Kemahasiswaan
    • Peraturan Akademik
      • Panduan Akademik
      • Kode Etik Mahasiswa Geografi
      • Tata perilaku Mahasiswa UGM
    • Layanan Kemahasiswaan
    • Layanan Akademik
    • Kalender Akademik
    • Seputar Magang
    • Beasiswa
    • Organisasi Kemahasiswaan
    • Ikatan Profesi Dan Lembaga-Lembaga Lain
  • P2M
    • Penelitian & Pengabdian Masyarakat
    • Tracer Study
  • Kerja sama
    • Dalam Negeri
    • Luar Negeri
    • Alumni
  • Fasilitas
    • Akademik
    • Student Wellbeing
    • Peminjaman Ruang
    • Ruang Kebugaran
  • Beranda
  • Rilis
  • Peringati Hari Bebas Sampah, Dosen Geografi UGM Sebut Perlu Perubahan Budaya Konsumsi Plastik

Peringati Hari Bebas Sampah, Dosen Geografi UGM Sebut Perlu Perubahan Budaya Konsumsi Plastik

  • Rilis
  • 15 Juli 2026, 11.00
  • Oleh: nailasalma
  • 0

Plastik telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia. Namun, cara masyarakat menggunakan plastik dalam waktu yang sangat singkat justru menjadikannya sebagai salah satu sumber pencemaran lingkungan terbesar saat ini. Karena itu, pengurangan sampah plastik tidak cukup hanya dengan mengganti bahan kemasan, tetapi juga harus diiringi perubahan budaya konsumsi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Djaka Marwasta, M.Si., saat menjadi narasumber dalam Dialog Tanggap Bencana RRI Yogyakarta memperingati Hari Bebas Sampah Plastik Sedunia, Senin (7/7/26).

Dr. Djaka menjelaskan, plastik pertama kali ditemukan pada sekitar tahun 1860-an dan sejak awal dirancang sebagai material yang memiliki daya tahan tinggi. Sifat tersebut membuat plastik menjadi material yang sangat bermanfaat dalam berbagai kebutuhan manusia. Namun, di lain sisi, ketahanannya juga menjadi persoalan karena membuat plastik sulit terurai di lingkungan.

“Plastik sebenarnya diciptakan agar dapat bertahan lama. Namun, justru ketahanannya itulah yang menjadi bumerang karena tidak mudah terurai,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada keberadaan plastik, melainkan pada pola konsumsi manusia yang menggunakan plastik hanya dalam waktu singkat sebelum akhirnya dibuang. Padahal, plastik masih memiliki nilai guna apabila dimanfaatkan secara bijak.

Oleh karena itu, pengelolaan sampah plastik perlu dilakukan melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Upaya pertama adalah reduce, yakni mengurangi penggunaan plastik yang berpotensi menjadi sampah. Selanjutnya reuse, yaitu menggunakan kembali plastik berkali-kali agar masa pakainya lebih panjang. Namun, ia menilai budaya masyarakat saat ini masih cenderung memperlakukan plastik sebagai barang sekali pakai.

“Budaya kita masih kurang menghargai plastik. Baru sekali digunakan langsung dibuang,” katanya.

Sementara itu, pada aspek recycle, Dr. Djaka mencontohkan pemanfaatan sampah plastik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Ia mengungkapkan, bersama tim peneliti UGM telah melakukan penelitian mengenai pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif selama dua tahun terakhir.

Proses daur ulang juga perlu disesuaikan dengan karakteristik plastik. Ia menjelaskan terdapat dua jenis utama plastik, yakni termoplastik yang dapat dilelehkan dan dibentuk kembali, serta termoset yang memiliki sifat permanen sehingga membutuhkan penanganan berbeda dalam proses daur ulang.

Ia menambahkan, sejumlah alternatif pengganti plastik telah berkembang di beberapa daerah seperti halnya Kulon Progo, dimana masyarakat masih memanfaatkan bambu, daun pisang, dan daun kelapa sebagai bagian dari kearifan lokal dalam mengurangi penggunaan plastik. 

Meski demikian, Djaka mengingatkan bahwa upaya mengurangi plastik juga perlu mempertimbangkan dampak lingkungan lainnya. Penggantian plastik dengan kemasan berbahan kertas, misalnya, berpotensi meningkatkan konsumsi kayu yang apabila tidak dikelola secara berkelanjutan dapat memicu penebangan hutan.

“Jangan sampai kita menyelesaikan satu persoalan, tetapi justru memunculkan persoalan lingkungan yang lain,” jelasnya.

Dr. Djaka juga menyoroti perkembangan teknologi bioplastik yang dibuat dari bahan organik, seperti pati ketela pohon, sehingga memiliki sifat biodegradable atau lebih mudah terurai secara alami. Sayangnya, pemanfaatan teknologi tersebut di Indonesia masih belum sepopuler di sejumlah negara lain.

“Ada banyak bahan pengganti plastik meski tidak semuanya dapat menggantikan seluruh fungsi plastik. Paling tidak, kita bisa mengurangi penggunaannya,” tegasnya.

Kendati demikian, pengurangan sampah plastik memerlukan kolaborasi seluruh pihak. Edukasi kepada masyarakat perlu terus diperkuat, sementara pemerintah daerah dapat mendukung melalui regulasi, seperti penyusunan peraturan yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai di kawasan publik maupun destinasi wisata. “Dengan sinergi tersebut, upaya mengurangi sampah plastik diharapkan dapat berjalan lebih efektif sekaligus menekan dampak pencemaran lingkungan di masa mendatang,” pungkasnya. 

Tags: SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Rilis Berita

  • Peringati Hari Bebas Sampah, Dosen Geografi UGM Sebut Perlu Perubahan Budaya Konsumsi Plastik
  • Guru Besar Geografi UGM Soroti Pentingnya Kelimpahan Data dalam Pengembangan Ocean Calculator
  • Geografi UGM Dampingi Identifikasi Potensi Kawasan Transmigrasi di Bolaang Mongondow Utara

Link Pendaftaran

Link Fakultas Geografi

Universitas Gadjah Mada

Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada
Sekip Utara, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Phone +62-274-6492340| 589595
Email: geografi@ugm.ac.id
Instagram : @geografiugm

Tentang

  • Sejarah
  • Visi Misi Tujuan
  • Pimpinan Fakultas
  • Senat Fakultas
  • Daftar Dosen Pengajar

Departemen

  • Geografi Lingkungan
  • Sains Informasi Geografi
  • Geografi Pembangunan
  • Pengelola Departemen
  • Pengelola Program Studi

Kemahasiswaan

  • Organisasi Kemahasiswaan
  • Layanan Kemahasiswaan
  • Seputar Magang

Layanan Terpadu

  • Heregistrasi
  • Surat Kemahasiswaan
  • Virtual Office Akademik

Informasi Publik

  • Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala
Flag Counter

© 2018 Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada | IG: geografiugm

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju