Plastik telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia. Namun, cara masyarakat menggunakan plastik dalam waktu yang sangat singkat justru menjadikannya sebagai salah satu sumber pencemaran lingkungan terbesar saat ini. Karena itu, pengurangan sampah plastik tidak cukup hanya dengan mengganti bahan kemasan, tetapi juga harus diiringi perubahan budaya konsumsi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Djaka Marwasta, M.Si., saat menjadi narasumber dalam Dialog Tanggap Bencana RRI Yogyakarta memperingati Hari Bebas Sampah Plastik Sedunia, Senin (7/7/26).
Dr. Djaka menjelaskan, plastik pertama kali ditemukan pada sekitar tahun 1860-an dan sejak awal dirancang sebagai material yang memiliki daya tahan tinggi. Sifat tersebut membuat plastik menjadi material yang sangat bermanfaat dalam berbagai kebutuhan manusia. Namun, di lain sisi, ketahanannya juga menjadi persoalan karena membuat plastik sulit terurai di lingkungan.
“Plastik sebenarnya diciptakan agar dapat bertahan lama. Namun, justru ketahanannya itulah yang menjadi bumerang karena tidak mudah terurai,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada keberadaan plastik, melainkan pada pola konsumsi manusia yang menggunakan plastik hanya dalam waktu singkat sebelum akhirnya dibuang. Padahal, plastik masih memiliki nilai guna apabila dimanfaatkan secara bijak.
Oleh karena itu, pengelolaan sampah plastik perlu dilakukan melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Upaya pertama adalah reduce, yakni mengurangi penggunaan plastik yang berpotensi menjadi sampah. Selanjutnya reuse, yaitu menggunakan kembali plastik berkali-kali agar masa pakainya lebih panjang. Namun, ia menilai budaya masyarakat saat ini masih cenderung memperlakukan plastik sebagai barang sekali pakai.
“Budaya kita masih kurang menghargai plastik. Baru sekali digunakan langsung dibuang,” katanya.
Sementara itu, pada aspek recycle, Dr. Djaka mencontohkan pemanfaatan sampah plastik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Ia mengungkapkan, bersama tim peneliti UGM telah melakukan penelitian mengenai pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif selama dua tahun terakhir.
Proses daur ulang juga perlu disesuaikan dengan karakteristik plastik. Ia menjelaskan terdapat dua jenis utama plastik, yakni termoplastik yang dapat dilelehkan dan dibentuk kembali, serta termoset yang memiliki sifat permanen sehingga membutuhkan penanganan berbeda dalam proses daur ulang.
Ia menambahkan, sejumlah alternatif pengganti plastik telah berkembang di beberapa daerah seperti halnya Kulon Progo, dimana masyarakat masih memanfaatkan bambu, daun pisang, dan daun kelapa sebagai bagian dari kearifan lokal dalam mengurangi penggunaan plastik.
Meski demikian, Djaka mengingatkan bahwa upaya mengurangi plastik juga perlu mempertimbangkan dampak lingkungan lainnya. Penggantian plastik dengan kemasan berbahan kertas, misalnya, berpotensi meningkatkan konsumsi kayu yang apabila tidak dikelola secara berkelanjutan dapat memicu penebangan hutan.
“Jangan sampai kita menyelesaikan satu persoalan, tetapi justru memunculkan persoalan lingkungan yang lain,” jelasnya.
Dr. Djaka juga menyoroti perkembangan teknologi bioplastik yang dibuat dari bahan organik, seperti pati ketela pohon, sehingga memiliki sifat biodegradable atau lebih mudah terurai secara alami. Sayangnya, pemanfaatan teknologi tersebut di Indonesia masih belum sepopuler di sejumlah negara lain.
“Ada banyak bahan pengganti plastik meski tidak semuanya dapat menggantikan seluruh fungsi plastik. Paling tidak, kita bisa mengurangi penggunaannya,” tegasnya.
Kendati demikian, pengurangan sampah plastik memerlukan kolaborasi seluruh pihak. Edukasi kepada masyarakat perlu terus diperkuat, sementara pemerintah daerah dapat mendukung melalui regulasi, seperti penyusunan peraturan yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai di kawasan publik maupun destinasi wisata. “Dengan sinergi tersebut, upaya mengurangi sampah plastik diharapkan dapat berjalan lebih efektif sekaligus menekan dampak pencemaran lingkungan di masa mendatang,” pungkasnya.

