Perubahan iklim bukan lagi menjadi isu masa depan, melainkan sebuah ancaman yang sudah dirasakan saat ini. Penanganan krisis iklim dirasa memerlukan sinergi dari berbagai pihak agar tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan melalui aksi nyata.
Hal itu disampaikan Dr. Djaka Marwasta, S.Si., M.Si., Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Dialog Tanggap Bencana bertema Atasi Krisis Iklim demi Masa Depan yang Lebih Aman yang disiarkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 Yogyakarta pada Selasa (2/6/26) . Menurutnya, penanganan krisis iklim harus melibatkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, media massa, dan masyarakat.
Sinergi tersebut diperlukan agar setiap pihak dapat mengambil peran sesuai kapasitasnya masing-masing dimulai dari berbagai langkah kecil yang dapat dilakukan untuk mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa perubahan iklim pada dasarnya disebabkan oleh aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca secara berlebihan. Kondisi tersebut membuat panas matahari terperangkap di atmosfer bumi sehingga suhu permukaan bumi terus meningkat.
“Jika terus terjadi, salah satu akibatnya adalah mencairnya es di kutub. Dampaknya, permukaan laut akan naik dan sejumlah pulau kecil berpotensi tenggelam. Dalam konteks lokal, perubahan iklim sebenarnya sudah ada di depan mata,” jelasnya.
Terlebih, pertumbuhan jumlah penduduk dunia yang semakin meningkat menjadi salah satu tantangan utama perubahan iklim. Sekitar tiga abad lalu, sebut Dr. Djaka, jumlah penduduk bumi belum mencapai satu miliar jiwa. Sementara saat ini jumlahnya telah menembus delapan miliar jiwa.
“Bayangkan berapa banyak karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan manusia setiap hari. Hal ini akan memengaruhi volume atau jumlah CO2 di atmosfer dan menyebabkan peningkatan suhu bumi,” ujarnya.
Selain pertumbuhan penduduk, Dr. Djaka menilai persoalan sampah yang terjadi di hampir setiap daerah juga menjadi tantangan serius dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Menurutnya, kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap peningkatan suhu bumi dan dirasa perlu untuk melakukan penanganan yang lebih serius.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, Dr. Djaka menyebut pihaknya turut melakukan pendampingan terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam proses transisi energi dari bahan bakar fosil, seperti batu bara dan BBM, menuju pemanfaatan biomassa. “Langkah kecil yang kami lakukan, misalnya mendampingi PLTU dalam proses transisi penggunaan bahan bakar fosil, seperti batu bara dan BBM, ke biomassa,” terangnya.
Di akhir dialog, Dr. Djaka mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif menjaga keseimbangan lingkungan demi mewujudkan masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan. Seluruh elemen perlu untuk menerapkan perilaku bijaksana dan berkelanjutan yang dilakukan secara kolektif atau bersama-sama.

