Dua mahasiswa Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dzar Faiq Alaqila dan Faiza Ardiyanti Safitri, mengikuti Melbourne Winter School (MWS) 2026 yang diselenggarakan oleh The University of Melbourne, Australia, yang berlangsung pada 29 Juni 2026 – 10 Juli 2026.
Dalam kegiatan yang bertemakan “Sustainable Transitions for our Region: Shaping a Resilient Future for Asia and the Pacific” ini, para peserta diberikan kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai Sustainable Development Goals (SDGs), serta melihat secara langsung penerapan prinsip keberlanjutan dalam pengembangan wilayah perkotaan.
Program MWS 2026 tersebut terdiri atas enam thematic streams yang berfokus pada isu keberlanjutan, yaitu Sustainable Livelihoods, Planetary Systems, Sustainable Society, Sustainable Cities, Digital Futures, dan Sustainable Economies.
Pada setiap stream, peserta dapat mendalami isu-isu yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), sekaligus merancang solusi melalui proyek akhir bersama kelompok.
Dalam program ini, Dzar Faiq Alaqila dan Faiza Ardiyanti Safitri mengikuti Sustainable Cities: Placemaking in the Urban Century. Stream ini mengajak peserta mempelajari pendekatan pembangunan kota berkelanjutan dapat diwujudkan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat serta kualitas ruang, sejalan dengan SDG 11 dan SDG 12.
Bersama Minseo Kwon, Aurella Katryn P. S, dan Sirirerk Ekkapabwassana, Dzar membentuk Team Green dan mengangkat isu pengelolaan sampah di pasar tradisional. Tim ini membandingkan kondisi pengelolaan sampah di Tanah Abang, Indonesia; Chatuchak, Thailand; dan pasar di Gwanak-gu, Korea Selatan, dengan Queen Victoria Market (QVM) di Melbourne sebagai salah satu referensi.
Dari perbandingan tersebut, ia bersama tim menemukan berbagai tantangan yang masih dihadapi, seperti keterbatasan pemilahan sampah, tingginya timbulan sampah makanan dan plastik sekali pakai, serta pencampuran sampah organik dan sampah umum. Berbagai masalah yang ia temukan kemudian menjadi dasar bagi Team Green untuk merancang solusi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Konsep yang mereka usulkan berupa pemilahan sampah berdasarkan jenis, seperti organik, plastik, serta kertas dan kardus.
Sampah yang terkumpul, lanjutnya, akan diolah menjadi kompos atau biogas, produk daur ulang, maupun kemasan yang dapat digunakan kembali oleh pedagang dan konsumen. “Dengan cara ini, sampah tidak hanya dipandang sebagai residu, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mengurangi timbulan sampah dan konsumsi plastik,” ujar Dzar.
Bagi Dzar, proses tersebut menjadi suatu pengalaman yang memperkaya pembelajarannya selama mengikuti program MWS 2026. Berbagai sesi bersama akademisi dan praktisi memberinya kesempatan untuk melihat bagaimana gagasan kota berkelanjutan diterapkan dalam konteks nyata.
“Saya mendapatkan banyak wawasan dari para panelis dan akademisi yang memiliki pengalaman dalam bidang keberlanjutan dan pembangunan kota. Melihat berbagai pendekatan yang diterapkan di Melbourne juga menginspirasi saya untuk dapat berkontribusi dalam merumuskan solusi yang lebih baik bagi permasalahan di Indonesia,” lanjutnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pelajaran pada Sustainable Cities stream tidak hanya dalam ruang akademik, tetapi peserta juga mendapatkan perspektif dari praktisi di bidang perencanaan kota, desain perkotaan, regenerasi kawasan, dan ketahanan kota. Salah satunya melalui sesi bersama Associate Professor Mark Allan selaku Academic Stream Lead, yang mengajak peserta memahami pembangunan perkotaan berkelanjutan melalui pembelajaran akademik dan pengalaman praktis.
Peserta juga melakukan kunjungan ke Green Line Project dan Queen Victoria Market Precinct Renewal (QVMPR). Di kedua lokasi ini, peserta berkesempatan langsung melihat bagaimana regenerasi kawasan dan pengembangan ruang kota berkelanjutan diterapkan di Melbourne.
Menurut Dzar, mengikuti MWS 2026 tidak hanya memperluas pengalaman akademik mahasiswa Fakultas Geografi UGM, tetapi juga membuka ruang untuk bertemu dengan berbagai perspektif dan membangun jejaring internasional. “Dari ruang kelas hingga proyek akhir, pengalaman tersebut menunjukan bagaimana pembelajaran tentang keberlanjutan dapat dipahami dan dihadapi melalui pendekatan yang relevan dengan kondisi di Indonesia,” pungkasnya.


