Dua alumni Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) membagikan pengalaman membangun usaha melalui kegiatan Career Development Talk #2 yang diselenggarakan Unit Pengembangan Karier dan Alumni (UPKA) Fakultas Geografi UGM pada Kamis (22/10/26).
Kedua alumni tersebut adalah Cut Ayu Tiara Sutari, alumni Program Studi Geografi Lingkungan angkatan 2011 yang menekuni dunia entrepreneurship, dan Muhammad Nadafa Isnain, alumni Program Studi Geografi Lingkungan angkatan 2018 yang mengembangkan usaha berbasis sosial atau sociopreneurship.
Dalam sesi pertama, Cut Ayu Tiara Sutari membawakan tema “Meniti Karier Sejalur dengan Jurusan versus Entrepreneur”. Setelah menempuh pendidikan magister di Utrecht University, Belanda, kini ia tengah mengelola tiga bisnis, yaitu Caralyn Fashion, konveksi Caralyn, dan The Caraland.
Cut Ayu mengungkapkan bahwa pada awalnya ia ingin berkarier sebagai dosen. “Awalnya, saya berpikiran ingin menjadi dosen. Pada saat itu, saya tinggal di Yogyakarta, dan saya rasa ini prospek yang paling menarik,” ujarnya.
Namun, rencana tersebut berubah ketika upayanya mengikuti sejumlah proses rekrutmen dosen tidak membuahkan hasil. Pada akhir 2019, ia mencoba mengikuti beberapa rekrutmen dosen, akan tetapi gagal karena tidak mengikuti salah satu tahapan seleksi. Hingga pandemi COVID-19 melanda pada awal 2020, situasi semakin sulit dan berbagai jalur rekrutmen tersebut ditutup.
Alih-alih berhenti mencari peluang, Cut Ayu memutuskan untuk memulai bisnis penjualan pakaian anak dari rumah. Ia kemudian mengembangkan model bisnis dropshipping sebagai langkah awal membangun usaha dengan modal terbatas.
“Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak bisa diam begitu saja. Saya harus menghasilkan karya dan memulai dengan berjualan dari rumah,” tuturnya.
Seiring berjalannya waktu, Cut Ayu mulai mengembangkan produk sendiri. Pada 2021, usahanya masih dijalankan dari sebuah kamar kecil dengan tiga karyawan hingga kini mempekerjakan sekitar 80 karyawan. Pada 2024, Cut Ayu memperluas usahanya ke bidang konveksi. Kemudian, pada akhir 2025, ia mendirikan bisnis kos eksklusif.
Meski menekuni dunia usaha, Cut Ayu mengaku dalam perjalanannya ia tetap memanfaatkan sejumlah keterampilan yang diperolehnya selama mempelajari keilmuan Geografi. Kemampuan berpikir spasial (spatial thinking), misalnya, ia gunakan untuk menentukan lokasi kantor yang strategis. Pengalaman kerja lapangan (fieldwork) membantunya melakukan riset pasar, hingga kemampuan analisis data, pemetaan, system thinking, dan research writing.
Senada dalam dunia bisnis, Muhammad Nadafa Isnain, pada sesi kedua mengangkat tema “Sociopreneur dalam Bingkai Geografi di Era Artificial Intelligence”. Lulusan magister University of Manchester, ini merupakan pendiri lembaga bimbingan HijrahGeograph yang bergerak di bidang pembinaan Olimpiade Geografi.
Cikal bakal gagasan itu berangkat dari keresahannya terhadap mahalnya biaya bimbingan olimpiade, terbatasnya guru di sekolah yang mengajarkan materi olimpiade, serta kesenjangan spasial yang memengaruhi akses peserta didik terhadap pembinaan.
Dalam perkembangannya, HijrahGeograph kini berhasil menjadi lembaga nomor satu di Indonesia yang mencatatkan prestasi melalui raihan juara umum dalam berbagai kompetisi tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, sociopreneurship yang ia tekuni merupakan upaya untuk memberikan dampak maksimal kepada masyarakat sekaligus menghasilkan keuntungan. Melalui bidang pendidikan, ia juga dapat terus menerapkan ilmu Geografi yang telah dipelajarinya.
“Dengan mengajar ini, saya tetap mempertahankan ilmu Geografi saya karena saya sangat senang ilmu Geografi itu terpakai terus,” ungkapnya.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Muhammad Nadafa turut mengingatkan agar berhati-hati dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Penggunaan AI tanpa pemahaman dasar berisiko menimbulkan kesalahan yang dapat berdampak pada citra usaha.
Di akhir, ia menekankan bahwa lulusan Geografi memiliki peluang besar untuk merambah ke dunia sociopreneurship dengan memanfaatkan keilmuan Geografi.
“Bidang lembaga sertifikasi masih menjadi salah satu prospek yang sangat potensial. Seperti sertifikasi data analis, sertifikasi pemodelan hidrologi, dan sertifikasi pemodelan polusi udara, di Indonesia masih sedikit sekali,” sebutnya.

