Unit Pengembangan Karier dan Alumni (UPKA) Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan Mini Bootcamp Career Development Talks #1 bertajuk “Unlock Your Geopower: Jelajah Inspirasi Karier Lulusan Geografi”.
Kegiatan ini berlangsung dalam dua sesi, Jumat (16/10/26) bersama Ghalih N. Wicaksono, alumni Fakultas Geografi UGM angkatan 2012, dan Senin (26/10/26) bersama Danung Shodikh Mahrizkhal, alumni angkatan 2016.
Berbeda dari pengenalan dunia kerja secara umum, Mini Bootcamp ini dirancang dengan konsep coaching. Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mulai dari proses rekrutmen, kompetensi yang dibutuhkan, hingga sistem kerja.
Pada sesi pertama, Ghalih yang saat ini bekerja sebagai Senior Geographic Information Systems Engineer di PT Hengjaya Mineralindo menjelaskan bahwa di tempat ia bekerja, lulusan Geografi memiliki peluang untuk berkarier di berbagai divisi. Selain departemen Geographic Information Systems (GIS), lulusan Geografi juga dapat berkontribusi di bidang lingkungan (environment), Corporate Social Responsibility (CSR), hingga sustainability.
Ia menyebutkan bahwa pekerjaan di departemen yang ia tekuni yaitu GIS mencakup kegiatan rutin, dukungan terhadap kebutuhan operasional, hingga keterlibatan dalam berbagai proyek perusahaan. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya memahami proses bisnis dan jenis pekerjaan yang nantinya akan dihadapi.
Untuk mempersiapkan diri memasuki bidang tersebut, Ghalih juga menekankan pentingnya menguasai berbagai perangkat lunak pengolahan data geospasial. “Setidaknya memiliki pemahaman dasar mengenai pengolahan data Global Positioning System (GPS) geodetik. Selain kompetensi teknis, sertifikasi profesi dapat menjadi nilai tambah yang dipertimbangkan perusahaan dalam proses perekrutan,” tambah Ghalih.
Dalam sesi tersebut, Ghalih turut membagikan gambaran mengenai lingkungan kerja dan aspek yang perlu dipertimbangkan ketika memilih karier di industri tersebut termasuk fasilitas dan kesejahteraan yang diperoleh.
Sementara itu, pada sesi kedua, Danung yang bekerja sebagai Senior Geographic Information Systems Analyst di perusahaan yang sama mengajak peserta untuk tidak hanya mengenali industri petambangan namun juga memahami bagaimana seorang lulusan Geografi dapat menciptakan sistem pekerjaan GIS dengan efektif.
Menurutnya, GIS bukan sekadar sebagai perangkat untuk menghasilkan peta, melainkan berperan utama dalam mendukung proses bisnis pertambangan. Sistem GIS, lanjutnya, digunakan untuk mengatasi tantangan manajemen data spasial dalam operasional penambangan.
“GIS bukan hanya sekadar peta yang bagus, tetapi menjadi alat untuk menjawab pertanyaan secara cepat, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah tanggung jawab spasial berada di teman-teman Geografi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menguraikan lima langkah penting dalam membangun sistem GIS yang efektif, yaitu memahami masalah, membingkai proses kerja, mempertimbangkan kebutuhan penerima, menguji akurasi dan keberlanjutan sistem, serta melibatkan tim dalam pengembangannya. Kelima langkah tersebut menjadi dasar agar sistem yang dibangun tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan operasional perusahaan.
Dalam perkembangannya, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga mulai membuka peluang untuk mengotomatisasi sejumlah pekerjaan GIS. Namun, Danung mengingatkan bahwa AI tetap berperan sebagai asisten yang bekerja berdasarkan instruksi dan batasan yang diberikan penggunanya.
“Semakin jelas kita membingkai pekerjaan, semakin baik pula hasil yang dapat diberikan AI. Hasilnya tetap perlu diperiksa secara cermat, terutama untuk memastikan ketepatan informasi dan menjaga kerahasiaan data,” pungkasnya.

