Ketika mendengar kata “Godzilla”, imajinasi kita mungkin langsung tertuju pada sosok monster raksasa fiksi yang menghancurkan kota dan menyemburkan api. Namun, dalam dunia meteorologi dan klimatologi ternyata “Godzilla” dimaknai sebagai sebuah ancaman yang lahir dari lautan dan mampu mengacaukan cuaca di seluruh dunia. Fenomena ini dikenal sebagai El Nino Godzilla.
“Bayi Laki-Laki” yang Mengubah Suhu Dunia: Sejarah El Nino
Jauh sebelum satelit cuaca mengorbit Bumi, fenomena El Nino pertama kali disadari oleh para nelayan di pesisir Amerika Selatan (Peru dan Ekuador) pada abad ke-17. Mereka menyadari bahwa setiap beberapa tahun sekali, perairan Samudra Pasifik di sekitar mereka menjadi sangat hangat menjelang bulan Desember. Karena fenomena ini sering muncul berdekatan dengan hari Natal, mereka menamainya “El Nino de Navidad” yang dalam bahasa Spanyol berarti “Anak Laki-Laki”.
Secara ilmiah, seperti yang dipaparkan oleh Kevin E. Trenberth dalam tulisannya yang berjudul “The Definition of El Nino” yang diterbitkan dalam Bulletin of the American Meteorological Society, El Nino adalah fase hangat dari siklus El Nino Southern Oscillation (ENSO). El Nino menurutnya dimulai ketika anomali suhu permukaan laut (SST) di wilayah Niño 3.4 (5°LU–5°LS, 120°–170°BB) melebihi 0,4°C selama 6 bulan atau lebih. Meskipun beberapa peneliti yang lain hanya membatasi pada terjadinya anomali melebihi suhu 0,5 °C. Fenomena ini terjadi ketika angin pasat yang biasanya meniup air hangat ke arah Asia melemah, menyebabkan massa air hangat tersebut berbalik menumpuk di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Pergeseran suhu lautan ini secara drastis mengubah pola sirkulasi atmosfer di atasnya, memicu kekeringan di satu belahan Bumi dan banjir bandang di belahan Bumi lainnya.
Kevin E. Trenberth meng identifikasi pola kemunculan El Nino yang umumnya terjadi saat belahan Bumi Utara mengalami musim semi atau musim panas dan kemudian menguat sampai dengan akhir tahun bahkan awal tahun berikutnya. Hal ini kemudian menyebabkan wilayah seperti Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan musim penghujan yang terlambat datang.
Lahirnya Sang Monster: El Nino Godzilla
Istilah “Godzilla El Nino” sebenarnya bukan klasifikasi teknis resmi, melainkan istilah populer yang pertama kali dicetuskan oleh Bill Patzert, seorang ahli klimatologi dari Jet Propulsion Laboratory NASA, untuk menggambarkan El Nino super kuat (very strong/super El Nino). Fenomena ini didefinisikan ketika anomali (kenaikan) suhu permukaan laut di Pasifik ekuator bagian timur melonjak melampaui 2 derajat Celcius di atas rata-rata normalnya.
Sepanjang sejarah observasi modern, dunia telah dihantam oleh El Nino Godzilla beberapa kali, dengan dua yang paling destruktif terjadi pada periode 1997-1998 dan 2015-2016. Mengenai kedahsyatan kejadian ini, Michelle L. L’Heureux bersama rekan rekannya menguraikannya secara komprehensif dalam publikasi berjudul “Observing and Predicting the 2015/16 El Nino” yang terbit di Bulletin of the American Meteorological Society. Dalam tulisan tersebut, L’Heureux menjelaskan bagaimana suhu Samudra Pasifik yang memanas secara ekstrem pada 2015 memicu efek domino yang melumpuhkan curah hujan tropis.
Dampak dari “monster” ini sangat mengerikan. Di Indonesia dan Australia, Godzilla El Nino 1997 dan 2015 menyebabkan kemarau terburuk dalam sejarah, memicu kebakaran hutan dan lahan gambut yang asapnya mencekik Asia Tenggara. Sebaliknya, di pesisir Amerika Selatan (seperti Peru), fenomena yang sama membawa curah hujan ekstrem yang menyapu bersih infrastruktur akibat banjir dan tanah longsor, sekaligus menghancurkan ekosistem terumbu karang global akibat pemutihan karang (coral bleaching).
Supari dkk, staf dari BMKG Indonesia pernah melakukan penelitian tentang dampak El Nino 2015 dengan judul Impact of the 2015 Godzilla El Nino event on the Indonesian rainfall yang diterbitkan dalam scientific Journal of PPI-UKM. Penelitian ini menyatakan bahwa hampir seluruh stasiun yang diamati di Indonesia mengalami kondisi kering dan bahkan 51% menunjukkan kondisi sangat kering. Meskipun demikian, kondisi tahun tersebut masih lebih ringan dibandingkan dengan El Nino 1997.
ADB dan Bappenas melaporkan bahwa El Nino pada tahun 1997 menyebabkan setidaknya 9,75 juta hektar hutan dan lahan terbakar dan menyebabkan kerugian hingga mencapai 4,86 miliar dolar Amerika atau setara dengan puluhan triliun rupiah berdasarkan kurs rupiah saat itu di Indonesia. El Nino pada tahun 2015 menyebabkan kebakaran yang lebih kecil dibandingkan tahun 1997, yakni dengan luas 2,6 juta hektar, namun menurut Bank Dunia justru menyebabkan kerugian yang lebih besar yakni sampai dengan 16,1 miliar dolar Amerika.
Masa Depan Iklim Kita: Apakah Godzilla Akan Lebih Sering Bangun?
Pertanyaan terbesarnya saat ini adalah: bagaimana perubahan iklim memengaruhi siklus El Nino? Jawabannya sayangnya cukup suram. Dalam sebuah studi terobosan yang ditulis oleh Wenju Cai beserta timnya, berjudul “Increasing frequency of extreme El Nino events due to greenhouse warming“, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change, menyimpulkan bahwa pemanasan global bertindak sebagai “bahan bakar” tambahan bagi Pasifik. Publikasi tersebut memprediksi bahwa kejadian El Nino ekstrem (El Nino Godzilla) akan terjadi dua kali lebih sering di masa depan. El Nino Godzilla saat ini rata-rata terjadi sekitar 20 tahun sekali, namun diprediksi berpotensi menjadi setiap 10 tahun sekali akibat peningkatan gas rumah kaca.
Strategi Mitigasi untuk Melawan Balik Sang Monster
Meskipun kita tidak bisa mencegah El Nino terjadi (karena ia adalah bagian dari siklus alami Bumi), kita memiliki kemampuan sains untuk memitigasi dampaknya. Strategi mitigasi ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan reaksi tanggap darurat, melainkan harus berbasis prediksi sains dan adaptasi jangka panjang. Beberapa mitigasi yang bisa kita lakukan di antaranya:
1.Translasi Data Iklim Menjadi Kebijakan Sumberdaya Air
Menggunakan data prediksi ENSO sedini mungkin untuk memandu berbagai aktivitas manusia yang terkait dengan air. Jika El Nino diprediksi datang, pemerintah harus segera menginstruksikan penundaan penanaman tanaman pertanian yang mengandalkan hujan, menyiapkan strategi menghadapi kekeringan dan mulai menghemat penggunaan air.
2. Manajemen Infrastruktur Air
Memaksimalkan daya tampung bendungan, waduk, dan danau pada fase La Niña (fase basah), agar cadangan air tersebut dapat dihemat dan didistribusikan secara ketat saat anomal El-Nino Godzila menghantam. Efisiensi, penghematan penggunaan air menjelang kejadian El Nino, serta perencanaan dalam penggunaannya semasa El Nino harus dibuat sejak awal. Selain itu, menggiatkan pemanenan air hujan adalah langkah yang bisa dilakukan selama musim penghujan masih berlangsung.
3. Sistem Peringatan Dini Kebakaran Berbasis Satelit
Untuk negara seperti Indonesia, memantau tingkat kekeringan lahan dan hutan terutama pada lahan gambut melalui satelit adalah mitigasi mutlak untuk mencegah kebakaran hutan berskala benua seperti yang terjadi pada tahun 1997 dan 2015. Penyiapan mitigasi dan tanggap darurat dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan juga harus disiapkan dengan matang. Patroli terpadu, larangan pembakaran lahan serta persiapan modifikasi cuaca yang mungkin perlu dilakukan selama masa darurat.
4. Menyiapkan Masyarakat untuk siap menghadapi El Nino Godzilla
Masyarakat perlu disiapkan untuk mengantisipasi penyakit pernapasan (ISPA) dengan Menyiapkan stok masker dan air purifier (pembersih udara) untuk menghadapi potensi debu berlebih dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, mitigasi cuaca panas dilakukan dengan mengedukasi masyarakat tentang bahaya heatstroke (sengatan panas) dan pentingnya menjaga hidrasi, serta menyiapkan sanitasi dan penyakit menular dengan menjaga kebersihan lingkungan, karena kurangnya pasokan air bersih sering kali memicu wabah penyakit kulit, kolera, atau diare.
5. Optimalisasi Lumbung Pangan
Memastikan stok cadangan pangan darurat (di tingkat desa hingga nasional) aman untuk mengantisipasi lonjakan harga akibat gagal panen (puso) dan penurunan produksi karena tidak bisa menanam tanaman pangan.
El Nino Godzilla bisa jadi pengingat yang brutal bahwa kita hidup di planet dengan sistem hidrometeorologi yang saling terhubung. Sang monster lautan itu mungkin akan bangun lebih sering di masa depan, tetapi dengan sains, pengamatan satelit, dan kebijakan mitigasi yang tepat, kita tidak harus menjadi korban dari amukannya.
Penulis : Dr. Ahmad Cahyadi, S.Si., M.Sc., Dosen Departemen Geografi Lingkungan, Fakultas Geografi UGM

