Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa pada akhir 2025 hingga memasuki 2026, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim hujan dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut tidak terlepas dari dampak perubahan iklim global yang semakin nyata dan memicu berbagai fenomena cuaca ekstrem.
Pakar Hidrometeorologi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir muncul siklon tropis yang sangat berpengaruh terhadap cuaca ekstrem, khususnya hujan lebat, baik di wilayah utara maupun selatan Indonesia.
Menurut Emilya, pembentukan siklon yang semakin intens pada 2025 menjadi salah satu indikator kuat bahwa perubahan iklim terus berlangsung. Pemanasan suhu permukaan laut yang tinggi memicu terbentuknya pusat tekanan rendah yang kemudian berkembang menjadi siklon tropis.
Pasalnya, secara geografis siklon tropis umumnya tidak terbentuk di wilayah Indonesia yang berada pada lintang 5°–11° Lintang Selatan dan 5° Lintang Utara–5° Lintang Selatan. “Dahulu tidak ada siklon yang terbentuk dekat dengan wilayah kita. Ini menjadi penanda bahwa suhu muka laut mulai meningkat. Semakin tinggi suhu tersebut, maka proses terbentuknya bibit siklon akan semakin sering. Jika bibit siklon terjadi di perairan Indonesia, dampaknya akan langsung kita rasakan,” jelasnya.
Selain siklon tropis, Emilya menambahkan, pada Januari atau Februari juga akan muncul fenomena lain yang berpotensi meningkatkan curah hujan, yakni Intertropical Convergence Zone (ITCZ). Fenomena ini merupakan pertemuan dua massa udara dari belahan bumi utara dan selatan yang bertemu di atas wilayah Indonesia.
Pertemuan tersebut, lanjutnya, memicu pembentukan awan konvergen yang dapat menimbulkan hujan dengan cakupan wilayah terdampak yang lebih luas.
“Fenomena ini tidak hanya terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tetapi juga di sebagian besar wilayah Pulau Jawa. Dampaknya adalah intensitas hujan yang cukup tinggi,” ujar Emilya dalam Dialog Tanggap Bencana RRI TV.
Karakteristik yang Berbeda pada Siklon Tropis

Dampak siklon tropis, kata Emilya, berbeda-beda di setiap wilayah. Siklon dapat memicu hujan lebat, namun besarnya dampak sangat bergantung pada jarak wilayah dengan pusat siklon. Selain hujan, siklon juga berpengaruh terhadap kecepatan angin serta tinggi gelombang laut.
Ia mencontohkan Siklon Cempaka yang pernah memberikan dampak signifikan di DIY karena jaraknya sangat dekat. Sementara itu, di Nusa Tenggara Timur, siklon yang berdampak besar adalah Siklon Seroja.
“Di mana pun bibit siklon itu terbentuk, Indonesia tetap perlu waspada. Khususnya bagi wilayah Jawa, kewaspadaan perlu ditingkatkan jika bibit siklon muncul di sekitar perairan Samudra Hindia,” tambahnya.
Emilya menegaskan bahwa perubahan iklim yang semakin nyata, ditandai dengan pembentukan siklon yang kian intens dan semakin dekat dengan wilayah Indonesia, menuntut langkah penanganan yang lebih komprehensif. “Dalam menghadapi fenomena tersebut, tidak hanya mitigasi akan tetapi perlu beradaptasi dengan kondisi bencana,” pungkasnya.

