Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan pembekalan kepada 165 calon wisudawan Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 pada Rabu (19/8/26) secara daring. Acara pembekalan ini ditujukan bagi para calon wisudawan sebagai sarana refleksi untuk memahami bagaimana pengalaman serta atmosfer akademik di Fakultas Geografi UGM nantinya dapat menjadi bekal dalam menjawab berbagai tantangan dan kebutuhan dunia kerja yang terus dinamis.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni Fakultas Geografi UGM, Dr. Dyah Rahmawati Hizbaron, S.Si., M.T., M.Sc., mengatakan bahwa dinamika bidang geografi membuka berbagai peluang bagi lulusan di dunia kerja. Berbagai bidang strategis, terutama yang berkaitan dengan lingkungan dan keberlanjutan, terus berkembang seiring dengan mandat nasional maupun global dan kebutuhan dari berbagai sektor.
Sementara itu, Kepala Unit Pengembangan Karier dan Alumni (UPKA) Fakultas Geografi UGM, Dr. Mukhamad Ngainul Malawani, S.Si., M.Sc., mengajak para calon wisudawan melihat kembali tren karier geografi sekaligus keterampilan yang dibutuhkan saat ini.
Menurutnya, bidang geografi telah berevolusi dari tahun ke tahun, mulai dari analisis spasial tradisional hingga kini berkembang pada pemanfaatan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan big data. Seiringan dengan perkembangan tersebut, penguasaan keahlian teknis menjadi bagian penting yang perlu terus dikembangkan, mulai dari pengolahan dan analisis data, visualisasi data, hingga machine learning.
“Penting bagi kita untuk mengembangkan skill di bidang geografi. Artinya, kita tidak hanya mendapatkan ijazah geografi saja, tetapi juga harus meningkatkan skill-nya,” jelasnya.
Ia menyebutkan beberapa keterampilan yang setidaknya dikuasai lulusan geografi seperti Geographic Information System (GIS), urban planning, dan konsultan lingkungan sebagai bidang yang memiliki peluang untuk terus berkembang. Terlebih, menurutnya, salah satu kekuatan utama lulusan geografi terletak pada kemampuan beradaptasi.
Kemampuan beradaptasi tersebut memungkinkan mereka bekerja di berbagai bidang maupun lingkungan kerja. Selain itu, ia menegaskan pentingnya mempertahankan pola pikir geografi sebagai landasan utama bagi para lulusan, sekalipun ke depannya berkarier di luar bidang geografi.
“Kita harus memiliki pandangan bahwa di depan luas jalannya, tidak harus di bidang geografi. Setidaknya geografi menjadi landasan berpikir untuk mencari karier ke depan,” tuturnya.
Pandangan tersebut tercermin dari pengalaman Novita Anggraini, alumni Program Studi Pembangunan Wilayah Angkatan 2009 yang saat ini menjadi CEO PT Habbie Bangun Aromatik. Menurutnya, menjadi mahasiswa Fakultas Geografi bukanlah sesuatu yang ia sesali. Sebaliknya, ilmu yang ia peroleh selama menjadi mahasiswa justru membuka banyak sudut pandang yang kemudian dapat diimplementasikan dalam pekerjaannya.
Bagi Novita, salah satu kekuatan yang dibawa usai menempuh studi di Fakultas Geografi UGM adalah cara melihat persoalan secara spasial. Pengetahuan mengenai WebGIS, misalnya, ia terapkan dalam pengelolaan bisnisnya, mulai dari memetakan sebaran pelanggan, toko, dan reseller hingga menentukan lokasi gudang.
Menariknya, cara berpikir spasial tersebut membantu dirinya melihat persoalan bisnis dari sudut pandang spasial yang belum tentu dimiliki atau dipahami oleh orang lain. Ia juga melihat bahwa keputusan dalam bisnis membutuhkan pendekatan berbasis data.
“Ternyata saya menemukan bahwa bisnis itu sangat scientific. Jadi, justru keputusan-keputusan bisnis itu harus berdasarkan data. Itu yang saya lihat, dan sebenarnya potensi kita sebagai seorang geograf itu sangat cocok karena kita melihat dua sisi, dari sisi humanisnya juga dan dari sisi saintifiknya,” ungkap Novita.
Di akhir, ia menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis, menganalisis persoalan, serta mengomunikasikan gagasan secara jelas menjadi bekal penting yang dapat dibawa seorang geograf ke berbagai bidang pekerjaan.

