United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat 99 persen populasi dunia menghirup udara tercemar setiap hari. Di kawasan perkotaan, konsentrasi polutan di dalam ruangan bahkan dapat mencapai dua hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan udara luar, padahal masyarakat urban menghabiskan lebih dari 90 persen waktunya di dalam ruangan.
Di tengah keterbatasan solusi yang ada, mikroalga menjadi alternatif pemurnian udara karena kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO₂) lebih efisien dibandingkan tanaman darat sekaligus menghasilkan oksigen dalam jumlah besar.

