• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Geografi
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi, Misi dan Tujuan
    • Sambutan Dekan
    • Manajemen
      • Pimpinan Fakultas
      • Senat Fakultas
      • Pengelola Departemen
      • Pengelola Program Studi
    • Civitas Akademika
      • Dosen
      • Staf Kependidikan
  • Pendidikan
    • Program Sarjana
      • Geografi Lingkungan
      • Kartografi dan Penginderaan Jauh
      • Pembangunan Wilayah
      • International Undergraduate Program
    • Program Pascasarjana
      • Program Studi Magister Geografi
      • Program Studi Magister Geografi Minat Pembangunan Wilayah
      • Program Studi Magister Geografi Minat MPPDAS
      • Program Studi Magister Penginderaan Jauh
      • Program Studi Doktor Geografi
    • Admisi
      • Program Sarjana
      • Program Pascasarjana
      • Program Fast Track S1 – S2
      • MATRIKULASI D4 ke S1
    • Akreditasi
  • Akademik & Kemahasiswaan
    • Peraturan Akademik
      • Panduan Akademik
      • Kode Etik Mahasiswa Geografi
      • Tata perilaku Mahasiswa UGM
    • Layanan Kemahasiswaan
    • Layanan Akademik
    • Kalender Akademik
    • Seputar Magang
    • Beasiswa
    • Organisasi Kemahasiswaan
    • Ikatan Profesi Dan Lembaga-Lembaga Lain
  • P2M
    • Penelitian & Pengabdian Masyarakat
    • Tracer Study
  • Kerja sama
    • Dalam Negeri
    • Luar Negeri
    • Alumni
  • Fasilitas
    • Akademik
    • Student Wellbeing
    • Peminjaman Ruang
    • Ruang Kebugaran
  • Beranda
  • Rilis
  • Memilih Berdiri di Bawah Tekanan, Syarif Berhasil Raih Juara 2 PILMAPRES UGM

Memilih Berdiri di Bawah Tekanan, Syarif Berhasil Raih Juara 2 PILMAPRES UGM

  • Rilis
  • 7 April 2026, 15.24
  • Oleh: nailasalma
  • 0

Tidak semua api perjuangan lahir dari dukungan, sebagian justru menyala dari keraguan, penolakan, dan hal-hal yang sempat menjatuhkan kita. Namun bagi R. Muhammad Syarif Abdurrahman yang akrab disapa Syarif, api itu justru menyala dari titik yang tidak ideal. Dari perasaan gagal di tempat yang paling ingin ia buktikan.

Syarif, mahasiswa Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh, Departemen Sains Informasi Geografis, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, mengenal perasaan itu dengan baik. Dan dari sanalah ia melangkah. Meraih Juara 1 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (PILMAPRES) Fakultas Geografi 2026 dan Juara 2 PILMAPRES Universitas Gadjah Mada Kategori Sarjana 2026.

Tekanan sebagai Titik Berangkat

Ibunya pernah berkata suatu kali, bahwa ia sudah hanyut di laut lepas ketika teman-temannya masih bermain di pinggir pantai. Kalimat itu bukan pujian yang ringan. Melainkan sebagai sebuah peta. Sebuah pengakuan bahwa perjalanan Syarif sudah bergerak jauh lebih dalam dari yang bisa dilihat dari tepian. Namun laut lepas tidak selalu berarti tenang. Ketika pendaftaran PILMAPRES dibuka, Syarif justru berada di titik yang paling berat secara personal. Proses ini tidak berjalan dalam kondisi yang ideal. Syarif merasa belum bisa memberikan jejak yang berarti di lingkungan fakultasnya, membawa beban dari seleksi tahun sebelumnya yang ia nilai belum maksimal, dan pula di atas semua itu ia sedang patah hati.

Ada sebuah lagu oleh Taylor Swift yang berbicara tentang kondisi tepat seperti itu. Tentang seseorang yang tetap tampil, tetap berfungsi, tetap memberikan yang terbaik. Walaupun di dalam dirinya sedang ada sesuatu yang hancur. Syarif mengenali dirinya dalam gambaran itu. “Saya harus tetap berjalan bukan karena saya sudah siap, tapi karena ada sesuatu yang lebih besar dari kondisi saya saat itu,” katanya.

PILMAPRES baginya bukan sekadar kompetisi. Ia adalah exit door yang ia pilih sendiri untuk dilewati. “Ketika merasa gagal secara sosial di lingkungan fakultas, saya hanya punya dua pilihan: meneruskan kegagalan itu, atau berdiri dengan tekanan. Saya memilih yang kedua yaitu berdiri, meski dalam tekanan sekalipun,” sambungnya.

Hal-hal yang saat itu terasa berat, menurut Syarif justru membentuk cara melihat perjalanan ini. Dari situlah ia menyadari bahwa nyala perjuangan tidak selalu lahir dari kenyamanan. Terkadang, ia justru tumbuh dari proses dijatuhkan, dari tekanan yang tidak kita pilih, namun akhirnya menguatkan cara kita melangkah ke depan.

Ia mengutip sebuah falsafah Minangkabau yang tertaut dalam proses perjalanannya. Alam takambang jadi guru. Artinya, segala sesuatu di alam semesta, termasuk tekanan dan patahan sekalipun, adalah guru. Ia adalah cara pandang. Dan nan bajalan luruih ka mato, nan bakatindan luruih ka hati. Melangkah lurus ke depan, bertindak lurus dari hati. Sebuah kompas yang menuntunnya maju, bahkan ketika kondisinya sedang tidak ideal. Dari titik personal itulah, arah perjuangan ini mulai menemukan bentuknya.

Ketika Ilmu yang “Terlalu Niche” Menjawab Pertanyaan Nasional

Dalam ajang PILMAPRES, Syarif mengusung gagasan yang bertolak dari satu pertanyaan yang menurutnya tidak nyaman. “Jika Indonesia tidak dapat memverifikasi secara independen klaim pengurangan emisinya di forum internasional, seberapa bermakna komitmen iklim nasional itu?,” ucap Syarif. 

Jawabannya ia tuangkan dalam Geospatial Carbon Intelligence Platform (GCIP). Sebuah reformulasi tata kelola MRV (Measurement, Reporting, and Verification) karbon nasional berbasis kecerdasan spasial lintas sektor.

Indonesia memasuki siklus pelaporan iklim pertamanya tanpa satu pun mekanisme verifikasi spasial independen untuk sektor-sektor yang menyumbang lebih dari 90% emisi nasionalnya. GCIP hadir bukan sebagai platform teknologi semata, melainkan sebagai ekosistem infrastruktur data bersama. Platform ini mengintegrasikan data satelit penginderaan jauh, data operasional lintas kementerian, dan standar verifikasi internasional ke dalam satu arsitektur yang memungkinkan Indonesia berdiri sebagai data author, bukan sekadar data subject, di forum iklim global.

Di sinilah benang merah antara latar keilmuan dan gagasannya menjadi terang. Kartografi dan penginderaan jauh memang kerap dianggap terlalu teknis, terlalu niche, terlalu jauh dari percakapan kebijakan. Namun paradoksnya, hampir tidak ada yang menyadari bahwa logika geospasial sudah bekerja diam-diam di balik hampir setiap keputusan strategis bangsa.

“Geospasial bukan hanya tentang peta. Ia adalah bahasa untuk memahami dunia. Dan bahasa itu, jika digunakan dengan tepat, bisa menjadi instrumen kedaulatan,” kata Syarif.

Inilah perspektif yang selama ini ingin ia gaungkan. Syarif menegaskan bahwa geospasial ada di setiap lini kehidupan, dan mereka yang memahaminya memiliki kemampuan untuk melihat masalah dari sudut yang tidak banyak orang lihat. Identitas sebagai problem solver yang terbiasa ‘melawan arus’ bukan sekadar label, ia adalah cara Syarif mendekati setiap persoalan yang ia hadapi.

Proses Seleksi: Antara Keraguan dan Keyakinan

Tidak ada persiapan panjang yang terencana dalam perjalanannya melalui ajang PILMAPRES, melainkan hanya ada rangkaian dorongan dari orang-orang yang lebih dulu melihat potensi yang belum ia lihat sendiri. Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc., Kepala Unit Pengembangan dan Peningkatan Prestasi Mahasiswa Fakultas Geografi UGM, menjadi sosok yang pertama meyakinkannya untuk melangkah. Dr. Barandi Sapta Widartono, S.Si., M.Si., M.Sc., selaku Dosen Pembimbing Akademik, mendorongnya untuk terus mengasah diri. Dr. Retnadi Heru Jatmiko, M.Sc. dan Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D., memberikan banyak insight dan evaluasi yang mempertajam arah gagasannya dan kepribadian diri Syarif.

Teman-teman dekat hingga psikolog pribadinya turut hadir. Bukan hanya sebagai penyemangat, tetapi sebagai cermin yang membantu Syarif melihat dirinya lebih jernih di tengah kondisi yang sedang berat. Dari percakapan-percakapan itulah ia belajar bahwa kerentanan dan kekuatan tidak pernah benar-benar terpisah. Keduanya bisa hadir dalam diri yang sama, pada waktu yang sama, dan justru dari titik itulah ia melangkah masuk ke proses seleksi.

Sepanjang proses seleksi, keraguan tidak pernah benar-benar pergi. Bahkan di beberapa titik, berhenti terasa jauh lebih mudah. Syarif mengakui bahwa ia hampir menyerah lebih dari sekali. Namun setiap kali itu terjadi, ada suara lain yang lebih keras. Dari para dosen, dari lingkaran terdekat, dan perlahan, dari dalam dirinya sendiri.

GCIP menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknis. Ia harus mengomunikasikan isu yang pelik tentang satelit, karbon, dan kedaulatan data kepada audiens yang beragam, dengan argumen yang tajam namun tetap membumi. “Setiap sesi presentasi adalah ujian. Seberapa jauh bisa menerjemahkan kompleksitas geospasial menjadi urgensi yang dirasakan semua orang,” kata Syarif.

Rekam Jejak: Jauh Sebelum Podium
Keberhasilan Syarif di PILMAPRES bukan sesuatu yang tiba-tiba. Selama masa studinya, ia telah menorehkan prestasi di kompetisi esai berskala nasional dan internasional, serta telah menghasilkan publikasi ilmiah. Rekam jejak itu bukan kumpulan trofi, melainkan bukti dari proses berpikir yang tidak pernah ia biarkan berhenti. Di luar kompetisi, ia aktif dalam kegiatan pengabdian Masyarakat. Sebuah wujud nyata bahwa komitmennya terhadap isu lingkungan tidak berhenti di atas kertas. Ia juga tercatat sebagai koordinator mahasiswa dalam sebuah simposium ilmiah internasional, di mana kemampuan organisasi dan akademisnya diuji secara bersamaan.

Yang membedakan perjalanannya adalah international exposure yang ia kejar dengan penuh kesadaran, bukan sekadar pelengkap portofolio. Ia hadir sebagai delegasi di forum council UNFCCC dalam sebuah konferensi internasional di Malaysia, berhadapan langsung dengan isu yang kelak menjadi jantung gagasannya di PILMAPRES. Ia juga menuntaskan program akademik bergengsi di Singapura dan Jepang, dua pengalaman yang ia tempuh dengan sengaja untuk belajar, untuk memperluas cara pandang, dan untuk memahami bahwa persoalan yang ia geluti di Indonesia adalah bagian dari percakapan yang jauh lebih besar.Untuk Mereka yang Sedang Berjuang dari Dalam

Bagi Syarif kondisi ideal tidak pernah benar-benar datang. Menunggu sampai siap adalah jebakan, karena kesiapan bukan prasyarat untuk melangkah. Ia adalah hasil dari melangkah. “Meski hatinya sedang tidak utuh dan  rasa percaya dirinya sedang retak, berfungsi di atas luka adalah pilihan untuk tidak membiarkan kondisi internal menjadi alasan eksternal untuk berhenti. Dan pilihan itu, sekecil apa pun, adalah bentuk keberanian yang paling nyata,” ujar Syarif.

Terlebih di era dimana hampir setiap krisis iklim, tata ruang, ketahanan pangan memiliki dimensi spasial yang selama ini diabaikan, ilmu geospasial bukan sekadar relevan. Ia adalah jawaban yang sedang dicari, oleh orang-orang yang bahkan belum tahu pertanyaannya. “Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa keras seseorang didukung, tetapi seberapa dalam ia dibentuk oleh perjalanannya,” pungkasnya.

Tags: SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Rilis Berita

  • Selama UTS, Fakultas Geografi UGM Sediakan Sarapan Gratis
  • Memilih Berdiri di Bawah Tekanan, Syarif Berhasil Raih Juara 2 PILMAPRES UGM
  • Penuhi Kebutuhan Air Bersih, Geografi UGM Lakukan Survei Sumber Air di Sumberjo

Link Pendaftaran

Link Fakultas Geografi

Universitas Gadjah Mada

Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada
Sekip Utara, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Phone +62-274-6492340| 589595
Email: geografi@ugm.ac.id
Instagram : @geografiugm

Tentang

  • Sejarah
  • Visi Misi Tujuan
  • Pimpinan Fakultas
  • Senat Fakultas
  • Daftar Dosen Pengajar

Departemen

  • Geografi Lingkungan
  • Sains Informasi Geografi
  • Geografi Pembangunan
  • Pengelola Departemen
  • Pengelola Program Studi

Kemahasiswaan

  • Organisasi Kemahasiswaan
  • Layanan Kemahasiswaan
  • Seputar Magang

Layanan Terpadu

  • Heregistrasi
  • Surat Kemahasiswaan
  • Virtual Office Akademik

Informasi Publik

  • Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala
Flag Counter

© 2018 Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada | IG: geografiugm

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju