Sebuah pertemuan singkat namun berkesan telah mengantarkan Andrew Mulabbi pada pilihannya untuk melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat itu, seorang dosen UGM berkunjung ke Uganda dan meninggalkan kesan mendalam bagi Andrew, bukan semata pada institusi asalnya, melainkan karena cara sang dosen membagikan ilmu dihadapan mahasiswa sarjana di salah satu perguruan tinggi tempat ia menempuh studi. Dari sanalah keinginan Andrew untuk melanjutkan studi ke Indonesia mulai tumbuh.
Andrew, yang akrab disapa demikian, kemudian melanjutkan pendidikan magister di Fakultas Geografi UGM melalui program beasiswa Kemitraan Negara Berkembang atau KNB, sebuah skema beasiswa pemerintah Indonesia bagi negara negara berkembang. Keinginan tersebut menjadi bagian dari visinya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya, menjadi dosen layaknya dosen UGM yang pernah ia kenalinya itu.
“Tidak cukup menjadi dosen, tetapi juga menjadi profesor,” ujarnya kepada tim Humas Fakultas Geografi UGM, Kamis (22/01/26).
Tepat di tahun 2008, ia menapakkan kaki di negara Indonesia seorang diri untuk kali pertamanya. Tahun-tahun pertama menjadi tahun yang penuh tantangan baginya untuk mempelajari bahasa Indonesia sekaligus memahami budayanya. Selama satu tahun, ia diharuskan mengikuti pelatihan bahasa di lembaga milik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Indonesian Culture and Language Learning Service (INCULS).
Bagi pria asal negara yang dijuluki The Pearl of Africa ini, Indonesia memiliki sejumlah kemiripan dengan tanah kelahirannya. Keduanya sama-sama memiliki jumlah penduduk yang besar serta keragaman suku dan budaya. Meski perbedaan kuliner sempat membuatnya sedikit terkejut, Uganda dengan khas makanan berkuahnya, tidak membuat Andrew berhenti untuk mencoba berbagai hidangan nusantara lainnya. “Paling suka nasi padang, karena serupa dengan makanan di Uganda,” kata pecinta nasi padang yang berasal dari negara yang disebut Mutiara Afrika.
Selama menempuh studi magister, Andrew meneliti perubahan timbulan lahan di Semarang yang kemudian menjadi topik tesisnya. Ketekunan dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia menyelesaikan studi pada tahun 2011 dengan capaian indeks prestasi kumulatif 3,95.
Usai menamatkan studi magister, Andrew kembali ke Uganda dan mengabdikan diri sebagai dosen Pegawai Negeri Sipil di Muni University. Namun, perjalanan akademiknya belum usai. Visi untuk menuntaskan pendidikan hingga jenjang tertinggi terus membawanya melangkah. Pada 2021, Andrew kembali ke Indonesia untuk menempuh program doktor di Fakultas Geografi UGM melalui jalur beasiswa.
Seusai menamatkan studi magister, Andrew sempat kembali ke negara asalnya. Ia mengabdi sebagai seorang dosen Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu universitas Uganda yaitu Muni University. Namun demikian, perjalanan akademiknya belum usai. Ia bertekad menuntaskan studi setinggi-tingginya sebagaimana yang dicita-citakan. Pada 2021, kegigihan Andrew membawanya kembali ke Indonesia untuk menempuh program doktor di tempat ia meraih gelar magister, yakni Fakultas Geografi UGM, melalui jalur beasiswa.
Berbeda dengan studi magister, menempuh pendidikan doktor merupakan fase pembentukan cara berpikir yang lebih kritis dan mandiri. Kendati demikian, perjalanannya terasa ringan seiring dengan lingkup pertemanan yang ia nilai sangat mendukung selama proses pembelajaran. “Hanya ada rasa cinta ke teman-teman S3 yang hangat, baik, mendukung, dan saling menghargai. Baik selama di kampus juga di keseharian,” ujarnya.
Dalam menyusun disertasi, Andrew meneliti geografi fisik dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan machine learning untuk pemodelan longsor di Pacitan. Topik ini, baginya, tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga dekat dengan realitas di negara asalnya. Ia menilai, masyarakat di Pacitan relatif telah memiliki kesadaran terhadap risiko bencana longsor. Sebaliknya, di beberapa wilayah Uganda, masih dibutuhkan upaya besar dari pemerintah untuk meningkatkan edukasi kebencanaan.
“Ada kawasan yang ketika terjadi bencana seperti longsor, mereka tidak mau berpindah. Karena rasa memiliki yang tinggi, sudah menyatu dengan adat budaya. Ini yang memerlukan upaya yang lebih besar dari pemerintah,” jelasnya.
Pada Rabu (21/01/26), Andrew resmi menyandang gelar Doktor dengan capaian IPK 3,99, nyaris sempurna. Ia mengaku bangga atas pencapaian tersebut. “Setelah menempuh sarjana pendidikan di Uganda, kemudian menempuh magister dan doktor di Fakultas Geografi UGM, sekarang merasa lebih lengkap,” katanya.
Rasa syukur juga ia sampaikan atas kesempatan belajar di Fakultas Geografi UGM yang dinilainya memiliki kurikulum yang bagus serta dosen yang kompeten. Sepulangnya ke Uganda, Andrew yang kini menjadi orang pertama di keluarganya bergelar Doktor masih menyimpan mimpi besar. Ia berharap dapat menjadi profesor pertama dan barangkali satu-satunya di wilayahnya.

