Bencana banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera sejak 25 November hingga awal Desember 2025. Dalam kondisi darurat tersebut, distribusi bantuan kerap menghadapi kendala, mulai dari ketidakmerataan hingga ketidaksesuaian dengan kebutuhan di lapangan akibat minimnya informasi detail. Akibatnya, bantuan menumpuk di satu lokasi sementara wilayah lain justru mengalami kekurangan.
Merespons situasi tersebut, Tim Quick Mapping Bencana Sumatera Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) menginisiasi Geoportal Informasi Kebencanaan (GIK) sebagai upaya darurat untuk memastikan penyaluran bantuan berlangsung lebih merata dan tepat sasaran. Geoportal ini diluncurkan dan disebarluaskan kepada publik pada Minggu (7/12).
“Kami melihat urgensi ketersediaan data spasial yang akurat dan real time untuk memetakan sebaran korban serta kebutuhan logistik di lapangan. Oleh karena itu, geoportal ini dibuat sebagai solusi berbasis teknologi untuk menjembatani kebutuhan korban dengan para donatur dan relawan,” ujar Dr. Nur Mohammad Farda, S.Si., M.Cs., anggota Tim Quick Mapping Bencana Sumatera Fakultas Geografi UGM.
Geoportal Informasi Kebencanaan dikembangkan oleh tim Fakultas Geografi UGM di Laboratorium Sistem Informasi Geografis. Tim ini merupakan salah satu dari tujuh working group di lingkungan UGM yang memiliki fokus berbeda dalam merespons bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera.
Geoportal yang dapat diakses melalui laman https://geoportal.science/gik/ ini merupakan platform WebGIS partisipatif berbasis crowdsourcing. Relawan maupun masyarakat terdampak dapat memasukkan data secara langsung sesuai kondisi lapangan.
Lebih lanjut, Farda menjelaskan, geoportal tersebut dilengkapi dengan sejumlah fitur utama. “Fitur dashboard peta sebaran menampilkan lokasi terdampak bencana secara visual pada peta digital. Fitur input data kebutuhan logistik memungkinkan pendataan jenis bantuan yang dibutuhkan secara spesifik, seperti makanan bayi, obat-obatan, atau selimut, sehingga bantuan dapat lebih tepat guna. Selain itu, tersedia fitur kontak darurat yang memuat nomor narahubung relawan atau penanggung jawab di setiap lokasi, serta fitur unggah foto lokasi untuk melaporkan kondisi visual lapangan sebagai bahan verifikasi tingkat urgensi bantuan,” jelasnya.
Ke depan, Geoportal Informasi Kebencanaan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah, lembaga donor, dan masyarakat luas dalam penyaluran bantuan kemanusiaan. “Dengan dukungan data spasial yang akurat dan terbuka, distribusi logistik menjadi lebih efisien, merata, dan tepat sasaran, sekaligus meminimalkan risiko bantuan yang tidak sesuai kebutuhan atau salah lokasi,” pungkas Farda.

