
Keilmuan geografi mencakup berbagai aspek yang berperan penting dalam kehidupan sehingga memiliki dampak luas dalam berbagai sektor kehidupan. Namun, tidak sedikit publik yang mempertanyakan urgensi keilmuan geografi. Begitu halnya dengan eksistensi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), yang sering mendapat pertanyaan mengenai kerja samanya, kiprah alumninya, hingga kurikulumnya sebagai institusi di bidang geografi.
Saat ini, disampaikan oleh Dekan Fakultas Geografi UGM, Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Si., dalam Webinar Geo-Insight pada Sabtu (22/2), bahwa dunia tengah dihadapkan pada berbagai isu geopolitik, perubahan iklim, pemanasan global, perdagangan karbon, smart city, dan remote sensing. Dan semua hal tersebut dipelajari dalam bidang geografi, khususnya di Fakultas Geografi UGM.
Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., menjelaskan bahwa beberapa kata kunci penelitian yang dikembangkan oleh fakultas ini mencakup aspek lingkungan, sumber daya alam, perubahan iklim, pemetaan stok karbon, SDGs, kebencanaan, smart city, remote sensing dan GIS, kecerdasan buatan dalam geografi, tata ruang, demografi, serta ketahanan pangan dan energi berkelanjutan.
Lebih lanjut, sejak berdiri pada tahun 1963, Fakultas Geografi UGM telah mengukuhkan reputasinya dengan menduduki peringkat pertama di Indonesia, peringkat keempat di ASEAN, dan peringkat ke-23 di Asia.
Sehingga, jika berbincang tentang geografi di masa depan, lulusan geografi memiliki banyak kesempatan di berbagai sektor baik nasional maupun global. Berdasarkan tracer study tahun 2024, sebanyak 41,15% alumni bekerja di sektor swasta, seperti konsultan pemetaan dan lingkungan, wirausaha, lembaga riset, pertambangan, serta perusahaan nasional dan multinasional.
Sementara itu, 29,75% alumni berkarier di sektor pemerintahan, termasuk sebagai peneliti, dosen, serta bekerja di kementerian, BRIN, BUMN, dan BUMD. Selain itu, ada juga yang berkarier di sektor militer seperti Dittopad, Dissurpotrud, dan Pushidrosal, serta di LSM seperti WWF, WCS, dan TNC.
Salah satu alumni muda berprestasi Fakultas Geografi UGM, Najwa Nur Awalia, berbagi pengalamannya dalam acara tersebut mengenai peluang yang didapat selama berkuliah di Fakultas Geografi UGM. Menurutnya, geografi tidak hanya sebatas mempelajari peta, tetapi juga memahami interaksi antara manusia dan alam dalam perspektif ruang.
“Awalnya, alasan saya masuk geografi adalah untuk mempelajari lingkungan dan SDGs. Di Geografi, kita dituntut menjadi global citizen, yaitu bagaimana kita dapat menyelesaikan isu-isu global yang ada. Saya menemukan berbagai isu menarik, seperti perubahan iklim dengan dukungan dosen ahli dan riset-risetnya yang mumpuni, serta kesempatan mengikuti berbagai kompetisi di bidang ini,” ujarnya.
Setelah lulus, Najwa langsung mendapat tawaran untuk bekerja sebagai Project Officer di bidang keberlanjutan. Saat ini, Ia menangani proyek di Simple Planet, sebuah perusahaan startup biotech dari Korea. Menurutnya, lulusan geografi memiliki peluang karier yang luas dan beragam selama mereka terus belajar dan mengembangkan keterampilan baru.“We learn the world and we solve the problem. Kita belajar tentang dunia di geografi dengan harapan dapat menjadi problem solver di masa depan,” tutupnya.