Kebutuhan akan pemahaman mendalam terkait isu pembangunan berkelanjutan dan net zero development kian krusial. Pengetahuan ini tidak cukup berhenti pada tataran kebijakan maupun diskusi para pakar, melainkan perlu menjangkau masyarakat luas agar terbentuk kesadaran kolektif. Dalam konteks tersebut, sektor pendidikan memegang peranan strategis sebagai motor penggerak perubahan perilaku serta pola pikir lintas generasi.
Hal ini disampaikan Dr. Erlis Saputra, S.Si., M.Sc., Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam kegiatan Indonesia Net Zero Networks Seminar yang diselenggarakan Fakultas Geografi UGM sebagai implementing partner bersama University of Leeds, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Resilience Development Initiative pada Senin (26/01/26) di Yogyakarta.
“Pendidikan pembangunan berkelanjutan harus dihubungkan sejak dini dan diimplementasikan sejak tingkat pendidikan menengah. Peran guru sangat penting dalam membuka awareness siswa sekolah menengah atas untuk mulai mempraktikkan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan dalam kehidupan sehari hari, bahkan sejauh mungkin diintegrasikan ke dalam kurikulum yang dijalankan,” jelasnya.
Lebih lanjut, perguruan tinggi dan sekolah menengah memiliki peran strategis yang saling melengkapi dalam membumikan edukasi pembangunan berkelanjutan. Perguruan tinggi, melalui riset dan inovasi, berfungsi sebagai center of excellence yang menghasilkan pengetahuan serta metodologi baru terkait keberlanjutan. Sementara itu, sekolah menengah menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter serta membekali generasi muda dengan kompetensi lingkungan sejak dini.
Dalam diskusi bertemakan“Membumikan Edukasi Pembangunan Berkelanjutan: Potensi Kerja Sama Universitas dan Sekolah Menengah dalam Pengajaran Pembangunan Berkelanjutan” tersebut, turut menghadirkan pakar dari berbagai instansi dan diikuti sejumlah delegasi dari berbagai universitas dan sekolah menengah.
Beberapa narasumber yang hadir antara lain Budi Santosa Asrori, S.E., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Yogyakarta, dengan paparan bertajuk “Kolaborasi Universitas dan Sekolah Menengah dalam Mendukung Proses Pembelajaran Berkelanjutan”; Prof. Jonathan Lovett dari University of Leeds dengan materi “Introducing Net Zero MOOC for Grounding Sustainability Issue”; serta Dr. rer.nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., Ketua Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Bidang Ilmu Geografi Pendidikan Geografi, yang membawakan tema “Sinergi Materi Pembangunan Berkelanjutan Universitas dengan Kurikulum Sekolah Menengah Atas”. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai potensi integrasi dan kolaborasi antara universitas dan pendidikan menengah dalam topik keberlanjutan.
Kegiatan yang menjadi bagian integral dari inisiatif Indonesia Net Zero Network tersebut menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah guna mendukung implementasi Education for Sustainable Development.
“Harapannya tidak hanya menjadi ruang dialog antara universitas dan sekolah menengah, tetapi juga mampu menghasilkan kerja sama konkret yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Selain itu, kerja sama internasional dengan University of Leeds diharapkan dapat menghadirkan perspektif global mengenai bagaimana isu pembangunan berkelanjutan diwujudkan menjadi aksi nyata oleh berbagai pihak,” ujar Dr. Erlis.

