Salah satu mahasiswa Magister Geografi, Satrio Budiman, berkesempatan untuk mengikuti Twin College Envoys (TWINCLE) Program 2026 diselenggarakan oleh Chiba University secara full funded. Program tersebut diikuti oleh mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Filipina, dan Taiwan. “Dari atlas menuju dunia nyata”, ungkapan favorit Rio yang menjadi motivasinya untuk memperluas cakrawala hingga melampaui batas negara, salah satunya melalui TWINCLE Program 2026.
Kegiatan ini diawali dengan perkenalan sesama peserta dan ice breaking dengan mahasiswa Chiba University yang akan membersamai peserta sebagai pendamping. Seluruhnya berkolaborasi bersama untuk berlomba membangun menara tertinggi dan terkuat menggunakan pasta. Kegiatan tersebut mengasah logika dan kreativitas, serta memperkuat bonding antarpeserta sebagai teman baru. Keesokan harinya, peserta mengunjungi National Museum of Japanese History dan Samurai Residence. Sebuah pengetahuan baru untuk mempelajari kehidupan masyarakat Jepang melalui sejarah, budaya, sosial, ekonomi, dan makanan.
Sebelum memasuki puncak acara, peserta Sakura dan JASSO diajak untuk bereksperimen mengenai sains bersama mahasiswa Chiba University. Rio bersama grupnya melakukan percobaan fisika berupa menyalurkan bunyi musik melalui beberapa media dengan material yang berbeda. Kegiatan diakhiri dengan diskusi mengenai materi dan cara mereka dalam menyampaikan kontek dan teknik yang mereka sampaikan. Nantinya, mahasiswa Chiba University berkesempatan untuk praktik ke beberapa SMA di Indonesia pada bulan berikutnya.
Puncak acara dilakukan dengan serangkaian berupa Annual Meeting, International Research Meeting, Final Presentation, dan SDGs Workshop. Pada kegiatan ini, para faculty member menyampaikan paparan masing-masing yang bertemakan teknologi digital. Sementara itu, peserta program TWINCLE diberi kesempatan untuk mempresentasikan penelitiannya pada sesi Final Presentation. Rio memaparkan penelitiannya mengenai pesisir yang berjudul “Coastal Multihazard and Ecosystem Services in Ayah-Jetis Coastal Area”. Sesi dilanjutkan dengan SDGs Workshop untuk menyusun dan mempresentasikan ide kreatif mengenai SDG 12 (Responsible Consumption and Production) bersama mahasiswa, siswa SMA, dan faculty member.
Hari selanjutnya diikuti dengan kegiatan laboratorium. Para peserta diberi kesempatan untuk berkunjung ke Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL). Seperti namanya, JMRSL diinisiasi oleh Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, seorang profesor asal Indonesia yang berjasa dalam penciptaan synthetic aperture radar (SAR). Peserta disuguhkan oleh teknologi yang telah dikembangkan oleh laboratorium tersebut, beserta cara kerja dari penggunaannya. Kegiatan dilanjutkan dengan eksperimen di laboratorium. Peserta melakukan uji coba ekstraksi DNA lobak, perkiraan umur pohon, dan pembelahan sel bersama Prof. Koji Tsuji, Prof. Jun Tanabe, dan Prof. Masahide Yamato.
Berkesempatan mengikuti program ini menjadi salah satu hari-hari terbaik yang telah dilewati oleh Rio. Mendapatkan pengalaman di negara baru bersama teman-teman lintas negara merupakan sesuatu yang sangat berharga. Meskipun pertemuan ini singkat, tetapi pengalamannya tersebut akan selalu tertanam di core memory. Seperti yang mereka katakan, “The snow will melt and the moment will pass, but the people we met still remains in our hearts”.


