Mahasiswi Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh, Rinasari Wijayanti, terpilih mewakili Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengikuti program pertukaran pelajar “Spring Course TWINCLE Program” yang diprakarsai oleh Chiba University.
Berawal dari materi perkuliahan mengenai Tobler’s First Law of Geography yang menyatakan “Everything is related to everything else, but near things are more related than distant things”, menghadirkan ketertarikan tersendiri bagi mahasiswa yang akrab disapa Rina ini.
Ketertarikan itu kemudian membuatnya ingin tahu lebih dalam maksud dalam hukum yang digagas Tobler. Hingga akhirnya, Spring Course TWINCLE Program di Chiba University membawanya untuk mendapatkan jawaban yang lebih luas.
Selama pelaksanaan program ini, ia berkesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan secara hybrid. Kegiatan luring dilaksanakan selama lima belas hari pada Kamis (05/02/26) hingga Jumat (20/02/26) dan juga sebelumnya didahului dengan pembelajaran secara daring selama dua bulan.
Menurutnya, rangkaian kegiatan Spring Course TWINCLE Program tengah mendorong dirinya untuk berani mengembangkan kemampuannya lebih jauh. Salah satu kegiatan yang mengesankan, sebut Rina, adalah International Research Session yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai negara di Asia.
Dalam sesi tersebut, ia berkesempatan untuk menyampaikan riset mengenai pemanfaatan salah satu produk remote sensing, yaitu Nighttime Light (NTL) Imagery untuk melihat dinamika Built Up Area di Provinsi Jawa Tengah.
“Sebuah pengalaman berharga bagi saya, seorang mahasiswa S1 Kartografi dan Penginderaan Jauh bisa berdiskusi terkait remote sensing bahkan dengan mahasiswa dari major dan negara yang berbeda sekalipun.” ungkap Rina.
Pada sesi kegiatan luring, Rina bersama delegasi lainnya tidak hanya terkonsentrasi di Chiba University saja, melainkan juga mengunjungi beberapa tempat pembelajaran lainnya, seperti National Museum of Japanese History.
Program ini juga mempertemukan dirinya dengan teman baru dari berbagai latar belakang budaya, bahasa, dan negara yang berbeda. Hal tersebut yang kemudian membuka pandangannya bahwa jarak fisik tidak benar-benar menjadi penghalang interaksi.
“Sebaliknya, hal tersebut justru menjadi kesempatan untuk membuka ruang diskusi dan berkolaborasi. Go out, meet more people, hear more stories,” katanya.


