• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Fakultas Geografi
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi, Misi dan Tujuan
    • Sambutan Dekan
    • Manajemen
      • Pimpinan Fakultas
      • Senat Fakultas
      • Pengelola Departemen
      • Pengelola Program Studi
    • Civitas Akademika
      • Dosen
      • Staf Kependidikan
  • Pendidikan
    • Program Sarjana
      • Geografi Lingkungan
      • Kartografi dan Penginderaan Jauh
      • Pembangunan Wilayah
      • International Undergraduate Program
    • Program Pascasarjana
      • Program Studi Magister Geografi
      • Program Studi Magister Geografi Minat Pembangunan Wilayah
      • Program Studi Magister Geografi Minat MPPDAS
      • Program Studi Magister Penginderaan Jauh
      • Program Studi Doktor Geografi
    • Admisi
      • Program Sarjana
      • Program Pascasarjana
      • Program Fast Track S1 – S2
      • MATRIKULASI D4 ke S1
    • Akreditasi
  • Akademik & Kemahasiswaan
    • Peraturan Akademik
      • Panduan Akademik
      • Kode Etik Mahasiswa Geografi
      • Tata perilaku Mahasiswa UGM
    • Layanan Kemahasiswaan
    • Layanan Akademik
    • Kalender Akademik
    • Seputar Magang
    • Beasiswa
    • Organisasi Kemahasiswaan
    • Ikatan Profesi Dan Lembaga-Lembaga Lain
  • P2M
    • Penelitian & Pengabdian Masyarakat
    • Tracer Study
  • Kerja sama
    • Dalam Negeri
    • Luar Negeri
    • Alumni
  • Fasilitas
    • Akademik
    • Student Wellbeing
    • Peminjaman Ruang
    • Ruang Kebugaran
  • Beranda
  • Rilis
  • Riset Mahasiswa Geografi UGM Dipresentasikan di Brasil, Soroti Pola Keruangan Bunuh Diri di Gunungkidul

Riset Mahasiswa Geografi UGM Dipresentasikan di Brasil, Soroti Pola Keruangan Bunuh Diri di Gunungkidul

  • Rilis
  • 4 Agustus 2025, 12.35
  • Oleh: nailasalma
  • 0

Lanskap karst yang selama ini dikenal dengan keindahan gua dan bentang alamnya, ternyata menyimpan sebuah kenyataan yang kerap kali tak terlihat. Fakta inilah yang diangkat Muhamad Rifki Rafida, mahasiswa Program Studi Pembangunan Wilayah, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam forum speleologi paling bergengsi di dunia, 19th International Congress of Speleology (ICS) yang digelar di Befly Convention Center, Minascentro Belo Horizonte, Brasil, pada 20–27 Juli 2025.

Rifki menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam kongres empat tahunan yang diselenggarakan oleh Union Internationale de Spéléologie (UIS), bekerja sama dengan Brazilian Speleological Society (SBE) dan National Center for Research and Conservation of Caves (ICMBio/CECAV). Forum ini dihadiri 1.164 peserta dari 54 negara yang melibatkan para peneliti, praktisi, akademisi, hingga pegiat konservasi karst dari seluruh dunia.
Di forum internasional tersebut, Rifki memaparkan hasil penelitiannya berjudul “Exploring Suicide Pattern in Karst Environment of Gunungsewu, Indonesia”. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari riset awal yang pernah ia paparkan saat menjadi panitia 5th Asian Transdisciplinary Karst Conference di Yogyakarta, Agustus 2024. Topik penelitiannya kemudian mendapatkan perhatian komunitas ilmiah internasional dan mengantarkan Rifki untuk berpartisipasi sebagai pemakalah, peserta, sekaligus sukarelawan di ICS ke-19 Brasil.

Rifki berusaha mengangkat sisi manusia dari lanskap karst, bukan sekadar melihat gua, batuan, dan sungai bawah tanah, tetapi bagaimana semua itu berdampak pada psikologi, sosial, dan keberlangsungan hidup masyarakatnya.

Ia mengkaji tentang pola keruangan bunuh diri yang relatif tinggi dan konsisten di kawasan karst Gunungsewu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kawasan Karst Gunungsewu, yang dikenal luas termasuk penjelajah Junghuhn sebagai surga Jamrud hijau, ternyata juga menjadi ruang yang rumit bagi kehidupan manusia yang menggantungkan nasib pada tanahnya yang tandus, airnya yang langka, dan hidup sosial yang terpencar mengikuti morfologinya,” terangnya.

Selama dua tahun, bersama pembimbingnya Dr. Erlis Saputra, M.Si. dan Kelompok Studi Karst Fakultas Geografi, Rifki mengkaji pola bunuh diri di Gunungkidul dengan pendekatan mixed-methods (kuantitatif dan kualitatif). Dalam rentang waktu 2013 hingga 2023, tercatat lebih dari 430 kasus bunuh diri, dengan rata-rata 30 kasus per tahun. Ia mengungkapkan bahwa angka tersebut diyakini masih jauh dari realitas karena kuatnya stigma dan rendahnya pelaporan kasus di Indonesia.

“Mayoritas korban adalah laki-laki lansia berprofesi sebagai petani, dengan metode dominan gantung diri, sering dikaitkan dengan mitos lokal Pulung Gantung meskipun kini dinilai sudah tidak relevan,” jelas Rifki. 

Lebih dari sekadar statistik, penelitiannya menggambarkan bagaimana tantangan geografis seperti keterpencilan pemukiman, kelangkaan air bersih, bentang alam yang ekstrem, hingga kemiskinan, perlahan menciptakan tekanan sosial dan psikis yang kuat. Fenomena ini yang kemudian dikenal sebagai tekanan lanskap.

“Dalam banyak kasus, orang tua tetap tinggal di tanah kelahiran mereka, menjaga ladang dan merawat hewan ternak. Sementara anak-anak mereka merantau. Dalam kesunyian yang semakin dalam itulah, banyak yang merasa tidak lagi punya tempat untuk berbagi beban dengan kondisi fisik dan mental yang mulai rentan,” ungkapnya.

Pada kongres ini, Rifki berhasil membawakan narasi tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral dan ilmiah bahwa memahami karst juga berarti memahami manusianya. Ia menegaskan pentingnya menjembatani kajian ilmu kebumian dengan isu kesehatan mental dan sosial. “Kami percaya bahwa karst tidak hanya perlu dikaji dari sudut keindahan dan keunikan geologinya, tetapi juga dari dampak nyata terhadap kehidupan manusia yang menghuninya,” tegasnya.
Selain mempresentasikan hasil penelitiannya, Rifki mengikuti berbagai agenda kongres lainnya seperti simposium tematik, pertemuan Komisi UIS dan Asian Union of Speleology (AUS), pameran fotografi, SpeleoOlympics, sesi kuliah oleh pembicara kunci, pameran barang-barang speleologi hingga kunjungan lapangan ke Gua Rei de Mato dan Gua do Maquine. 

Sebagai satu-satunya mahasiswa S1 aktif dalam kongres ini, Rifki percaya bahwa speleologi di Indonesia tidak hanya berkembang dalam aspek eksplorasi fisik, tetapi juga menjadi ruang kajian sosial, budaya, dan keberlanjutan manusia.

“Pengalaman ini bukan akhir, melainkan pijakan awal untuk melangkah lebih jauh. Semoga pengalaman ini bisa saya bagikan kepada teman-teman, kolega, dan komunitas di Indonesia agar speleologi menjadi ruang lintas ilmu yang hidup, membumi, dan menyentuh realitas masyarakat,” ujarnya.

Tags: SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Rilis Berita

  • Geografi UGM Luluskan 140 Mahasiswa, Lulusan Perempuan Tetap Mendominasi
  • Alumni Geografi UGM Bagikan Strategi Karier di NGO untuk Atasi Isu Iklim
  • Geografi UGM Dorong Penguatan Literasi Keberlanjutan

Link Pendaftaran

Link Fakultas Geografi

Universitas Gadjah Mada

Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada
Sekip Utara, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Phone +62-274-6492340| 589595
Email: geografi@ugm.ac.id
Instagram : @geografiugm

Tentang

  • Sejarah
  • Visi Misi Tujuan
  • Pimpinan Fakultas
  • Senat Fakultas
  • Daftar Dosen Pengajar

Departemen

  • Geografi Lingkungan
  • Sains Informasi Geografi
  • Geografi Pembangunan
  • Pengelola Departemen
  • Pengelola Program Studi

Kemahasiswaan

  • Organisasi Kemahasiswaan
  • Layanan Kemahasiswaan
  • Seputar Magang

Layanan Terpadu

  • Heregistrasi
  • Surat Kemahasiswaan
  • Virtual Office Akademik

Informasi Publik

  • Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala
Flag Counter

© 2018 Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada | IG: geografiugm

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju