{"id":253,"date":"2010-03-09T07:43:49","date_gmt":"2010-03-08T23:43:49","guid":{"rendered":"https:\/\/geo.ugm.ac.id\/?p=253"},"modified":"2010-03-09T07:43:49","modified_gmt":"2010-03-08T23:43:49","slug":"museum-peta-fakultas-geografi-ugm-dimuat-surat-kabar-kedaulatan-rakyat-edisi-08-maret-2010","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/geo.ugm.ac.id\/2010\/03\/09\/museum-peta-fakultas-geografi-ugm-dimuat-surat-kabar-kedaulatan-rakyat-edisi-08-maret-2010\/","title":{"rendered":"SATU-SATUNYA DI INDONESIA ; Museum Peta UGM, Koleksi Tertua 1810"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><em>Puluhan\u00a0mesin tua itu tersimpan rapi di Museum Peta Fakultas Geografi UGM. Dulu, mesin yang rata-rata berukuran besar itu memang jadi andalan untuk membuat peta. Namun sejak teknologi komputer merambah, praktis mesin tersebut tak digunakan lagi.<\/em><\/p>\n<p>Tidak jelas kapan alat-alat reproduksi peta itu dibuat. \u201dSejak saya kuliah di Fakultas Geografi tahun 1979 mesin sudah ada. Dulu biasa digunakan untuk praktikum mahasiswa,\u201d kata Drs Noorhadi Rahardjo, Kepala Laboratorium Reproduksi Peta dan Kartografi Digital Fakultas Geografi UGM.<!--more--><br \/>\nKini mesin sebesar itu sudah dapat digantikan dengan komputer atau laptop yang jauh lebih ringkas. Meski begitu, koleksi alat-alat reproduksi peta itu tetap bernilai tinggi untuk proses pembelajaran. Peta lama punya nilai histori. Keberadaannya penting untuk melakukan evaluasi fenomena geografi secara keruangan. \u201dMakanya kami sangat peduli dengan peta yang dulu pernah ada,\u201d ujarnya.<br \/>\nIde pembuatan Museum Peta yang merupakan satu-satunya di Indonesia berawal ketika Noorhadi berkunjung ke Inggris. \u201dDi sana ada Museum Peta yang koleksinya sangat lengkap. Dari tahun 1700-an hingga 2000,\u201d ujarnya.<br \/>\nBanyak hal yang bisa dipelajari ketika berkunjung ke museum yang diresmikan Dubes India HE Mr Biren Nanda Oktober 2008 lalu.<br \/>\nMuseum ini memang didirikan dalam rangka memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang sejarah perkembangan peta dan proses pemetaan dari masa ke masa. Museum Peta juga memberikan gambaran pada masyarakat luas tentang proses penyusunan peta dan manfaatnya dalam berbagai bidang. \u201dKami ingin menunjukkan sejarah teknologi pembuatan peta pada generasi sekarang,\u201d ujar Noorhadi. Perkembangan ilmu kartografi dari konvensional hingga digital merupakan sejarah yang perlu didokumentasikan untuk dipelajari dan dipahami masyarakat.<br \/>\nBegitu memasuki ruangan yang tidak begitu luas, pengunjung langsung disambut dengan maket peta DIY berukuran besar. Kecuali itu ada pula peta Yogyakarta dengan skala 1:10 ribu buatan tahun 1837 yang ditempel di dinding. Koleksi tertua lainnya adalah peta Holland buatan Belanda 1810.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" style=\"vertical-align: middle;\" src=\"http:\/\/10.254.1.10\/wp-content\/uploads\/2010\/03\/mbk-untari.jpg\" alt=\"\" width=\"442\" height=\"374\" \/><br \/>\nMeski dibuat secara konvensional, namun peta-peta tua itu tak kalah berkualitas dengan peta jaman sekarang yang dibuat secara digital. \u201dSebagian peta yang ada di sini peninggalan Belanda,\u201d kata Untari, petugas Laboratorium Desain Konstruksi dan Analisa Peta.<br \/>\nSebagian besar mesin yang ada di museum juga masih bisa digunakan. Hanya saja untuk kondisi sekarang memang kurang efisien. Produksi terakhir dilakukan sekitar tahun 1993 untuk mencetak peta kampus.<br \/>\nDijelaskan Untari, sebelum komputer menjamur, proses reproduksi peta sangat rumit. Untuk mengubah skala peta misalnya, digunakan mesin map o graph buatan 1979 yang ukurannya cukup besar. Tidak seperti sekarang tinggal klik komputer skala bisa diubah dengan cepat dan akurat.<br \/>\nAda 13 koleksi alat reproduksi peta yang tersimpan di museum itu. Antara lain pantograph yang berfungsi mengubah skala secara mekanik, meja potong film, enlarger untuk afdruk fotografi, pototypesetter untuk membuat teks secara fotografi.<br \/>\nTak hanya itu, Museum Peta juga memiliki koleksi alat-alat ukur survei pemetaan sebanyak 15 unit. Antara lain theodolith (pengadaan tahun 1970-1997) yang berfungsi mengukur sudut, jarak dan beda tinggi. Ada pula kompas surveying (pengadaan 1970), plantimer (1970) yang digunakan untuk mengukur luas dll.<br \/>\nMuseum juga dilengkapi dengan ruang copy film yang dulu digunakan untuk mencetak peta sebelum ada teknologi printing. \u201dDulu mencetak peta prosesnya hampir sama dengan afdruk foto,\u201d ujar Untari.<br \/>\nDrs Sukwarjono MSi, pengajar Jurusan Sistem Informasi Geografi dan Pengembangan Wilayah mengatakan, membuat peta tidaklah mudah. \u201dMelalui peta kita berusaha membuat gambar atau simbol dari kenampakan alam,\u201d ujarnya. Dalam pembuatannya juga diberikan simbol\/tanda yang mudah dimengerti masyarakat luas.<br \/>\nMeski menempati ruangan yang tidak begitu luas, Museum dan Perpustakaan Peta UGM sudah sering dikunjungi siswa dan guru dari berbagai daerah. Museum ini menjadi tempat pembelajaran yang nyata bagi mereka. <a href=\"http:\/\/www.kr.co.id\/web\/detail.php?sid=210855\" target=\"_blank\"><em>( Sumber Kedaulatan Rakyat Edisi 08 Maret 2010)<\/em> <\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puluhan\u00a0mesin tua itu tersimpan rapi di Museum Peta Fakultas Geografi UGM. Dulu, mesin yang rata-rata berukuran besar itu memang jadi andalan untuk membuat peta. Namun sejak teknologi komputer merambah, praktis mesin tersebut tak digunakan lagi. Tidak jelas kapan alat-alat reproduksi peta itu dibuat. \u201dSejak saya kuliah di Fakultas Geografi tahun 1979 mesin sudah ada. Dulu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"class_list":["post-253","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rilis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/geo.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/geo.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/geo.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/geo.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=253"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/geo.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/geo.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=253"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/geo.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=253"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/geo.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=253"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}